Oleh: hamzah73 | Januari 10, 2010

Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan

Namaku adalah laki-laki yang menggendong gitar sebagai busur yang selalu merunduk di atas awan dan teman-teman memanggil aku Kabul. Usia? kira-kira 25 tahun.

Ini kali pertama aku menginjakan kaki di kota impian, Jakarta. Di sinilah, ya, aku tegaskan lagi disinilah, di samping penjual rokok dan kopi dan aneka macam kue yang letaknya agak jauh dari loket kereta, menjadi pijakan pertamaku untuk mencapai tangga kesuksesan menjadi seorang pemusik terkenal seluruh dunia. Dan si penjual rokok itu, yang mukanya seperti habis dioperasi plastik oleh dokter yang tidak lulus kuliah kedokteran dan mungkin seorang pemabuk akan menjadi saksi pertama kalinya aku menginjakan kaki di kota besar ini, suatu saat, dia akan melihat tampangku di majalah atau televisi dan berkata,”Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana. O, di stasiun kereta di pagi hari yang berkabut dengan muka mengkilat karena berminyak.” Baca Selengkapnya..

Oleh: hamzah73 | Desember 28, 2009

La Dedu, Pebisnis Yang Berangkat Dari Khayalan Tinggi

Penulis : Hamzah

La Dedu, begitu nama akrab dimata ‘abang-abangnya’. Sebenarnya ia bernama lengkap Dedu Purnomo. Namun, nama La Dedu sulit terbuang dari memory bagi yang mengenalnya. Kenapa? La Dedu dulunya seorang pecundang, sedikit menipu, licik, nakal, suka buat masalah, agak kuno-an, dan berselera tinggi. Lebih dari itu, La Dedu seorang penghayal kelas kakap. Padahal sebenarnya, ia hanya anak seorang petani miskin, bahkan sangat miskin di Parauna Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara sana. Namun kini, keadaan itu terbalik 180 derajat. Kini ia menjadi pebisnis yang terbilang berhasil di Kota Kendari. Baca Selengkapnya..

Oleh: hamzah73 | Desember 27, 2009

Om Basa dan Romantisme Kwarda Sultra

Penulis : Hamzah

Kebetulan saya suka sekali dengan pramuka, makanya nama Kwarda Sultra begitu lekat dihati saya, sama lekatnya dengan ingatan anak-anak Pramuka lainnya di Kota Kendari. Kwarda Sultra memang ‘pusatnya’ perkantoran pramuka di ‘bumi anoa’ ini, disana tempatnya berkantor, berlatih, bermain, dan mungkin ‘adu strategi politik’ hehehe…(bagi pramuka yg suka cerita politik) …Namun yang paling berkesan bagi saya justru ‘kehidupan’ di dalamnya. Ada canda tawa, ada rebut-ribut, ada persaingan, dan bagi yang dilanda asmara, Kwarda-lah tempatnya. Tapi bagi saya sebaliknya, bukan asmara, tapi Asrama… Baca Selengkapnya..

Oleh: hamzah73 | Desember 18, 2009

Eksotisme Mancing Cumi di Purnama Lakeba

Mencari cumi-cumi merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi masyarakat di kawasan Pantai Lakeba Bau-Bau. umumnya, kegiatan ini dilakukan pada malam bulan purnama, ketika bulan tampak utuh dengan cahayanya yang keperakan. Umunya para pelaut memilih mancing cumi ketimbang turun kelaut, konon saat itu ikan susah ditangkap. Katanya, ikan tidak menyukai cahaya yang terlalu terang dan pengaruh gaya grafitasi bulan pada lautan di bumi membuat laut menjadi pasang. Baca Selengkapnya..

Oleh: hamzah73 | Desember 18, 2009

Bau-Bau, Putri Cantik di Jalur Pelayaran Dunia

Perahu-perahu kayu berjejer di selat yang memisahkan Pulau Buton dan Muna. Tiang layar terikat sulur- sulur tali berdiri menunjuk langit. Perahu tradisional itu merupakan salah satu jejak peradaban bahari Kesultanan Buton. Perahu itu pula yang mengantar para pelaut Buton menjelajah Nusantara sejak abad ke-17.

Pelayaran menjadi ruh Kesultanan Buton karena posisi geografisnya berada di jalur perdagangan rempah-rempah. Kapal-kapal dagang milik VOC singgah di Bau-Bau dalam perjalanan dari negeri rempah- rempah Maluku ke Jawa dan sebaliknya. Posisi Buton yang strategis itu diperebutkan oleh dua kerajaan besar, Ternate dan Makassar, seperti ditulis Pim Schoorl dalam buku Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton (2003). Baca Selengkapnya..

Oleh: hamzah73 | November 12, 2009

Pulau Makasar (di Bau-Bau) dan Cerita Masa Lalu

Penulis : Hamzah & Muh. Jufri Rahiem

puma kecilNama Makassar begitu popular, ada Kampung Makassar di Cape Town Afrika Selatan, Makassar di Madagaskar, bahkan di Indonesia nama kampung Makassar begitu menggurita, pertanda hegemoni Makassar begitu besar di masa lalu. Di Kota bau-Bau, tak terkecuali, ada sebuah Pulau juga berlabel Makassar, namanya Pulau Makasar (tidak double S)…banyak cerita tersimpan di pulau nan cantik itu..

UMUR Pulau Makasar diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun. Ini dapat dilihat dari prasasti makam Sultan Buton VIII Mardan Ali atau Oputa Yi Gogoli yang terdapat di pulau seluas kurang lebih 10 KM2 tersebut, antara tahun 1647 – 1654. Atau dapat pula dikaitkan dalam sejarah Kerajaan Buton yang ditulis A Ligtvoet tahun 1887 yang menyiratkan asal-usul nama Pulau Makasar. Baca Selengkapnya..

Oleh: hamzah73 | November 10, 2009

Pekik Merdeka Sang Veteran

1-pahlawan2-pahlawn“Merdeka, merdeka, merdeka” pekik ini membuat bulu roma merinding. Puluhan Veteran di Kota Bau-Bau tiba-tiba memekikkannya. Pekikan yang seolah sumbang karena di balut nuansa korupsi anak negeri pewarisnya. 10 November 2009, getar-getar perjuangan itu terasa…tidak ada Anggodo disana, tidak ada Anggoro disana…

“Merdeka, Merdeka, Merdeka” ia meberi semangat, semangat kepada anak negeri…Pekikannya menggelegar menyadarkan kerapuhan nusantara, menyadarkan segala amarah dan bencana….menyadarkan kerapuhan hidup mereka, karena tiada balas jasa….(Hamzah di Hari Pahlawan 10 November 2009)

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori