Hidup Baru

Saya dan Istri Tercinta
Saya dan Istri Tercinta

Aku tak ingat betul, kapan saya mulai menjadi seorang pekerja pers, tapi perkiraanku seputar tahun 1996-1997. Media yang pertama kukenal adalah Sulawesi News, dari seorang bernama Ashari SSTP, seorang alumni STPDN yang juga mantan Calon Gubernur Sulawesi Tenggara. Kujalani profesi itu meski tanpa gaji yang jelas, yang penting saya bangga, kalau namaku sudah ada di box koran itu, apalagi berdampingan dengan seputar nama-nama tokoh akademik Sulsel, yang duduk sebagai pelindung penasehat.

Hampir 6 bulan kujalani profesi itu, sekali lagi tanpa gaji. yang penting berita-beritaku muncul dan namaku disebut-sebut sebagai salah seorang wartawan di Kabupaten Kolaka. Tapi entah kenapa hampir bersamaan dengan diberikannya kartu identitas sebagai wartawan Sulawesi News, saat itu pula koran sudah jarang terbit. (mungkin belum profesional). Bahkan kebanggaaanku menjadi sirna, ketika suatu waktu Saya diajak teman-teman wartawan Kolaka seperti Takwa Rahman (Kendari Ekspres) ke Makasar (redaksi Sulawesi News) yang kulihat sangat jauh dari yang kubayangkan. Redaksi media itu hanya berpusat dirumah penduduk dan jauh dari kesan sebuah perkantoran media cetak.

Namun, ketika aku sudah sering dapat duit lewat ‘amplop’ dari beberapa orang yang kuberitakan (saya belum tahu kalau itu meruntuhkan idealisme wartawan), saya juga mendaftar sebagai mahasiswa Sekolah Tingi Ilmu Agama Islam (STAIN) Kendari filial Kolaka. Mental kemahasiswaan inilah yang mendorongku untuk tampil idealis. bahkan aku sempat terpilih sebagai Peserta terbaik Pelatihan Pers pada UK-Pers STAIN Kendari untuk yang pertama kalinya. Karenanya ada saja tawaran untuk bekerja di media harian seperti Kendari Pos dan Kendari Ekspres, namun aku belum berani, karena Saya sadar jika ilmu yang kuperoleh masih sangat sedikit.

Sepulangnya dari pelatihan, (ini mungkin yang namanya rezeki), tiba-tiba di Kolaka akan berdiri sebuah media penerbitan dengan kemasan majalah, namanya Majalah Info Sultra. pendirinya adalah Bapak H Syamsu Alam (pengusaha) dengan Bapak Ridwan Muhamammad (jurnalis Senior, yang pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa media cetak besar di Kota Makasar).

BERKIPRAH DI MAJALAH INFO SULTRA

Singkat cerita, aku diterima masuk di majalah itu. Mungkin karena saya dinilai mahasiswa yang sedikit punya talenta. Disana saya kenal namanya managemen media, ada kantor yang representatif, peralatan pers yang cukup dan teman-teman seprofesi yang cukup banyak. Kujalani profesi itu sebagai wartawan, bahkan penilaian managemen, diantara reporter Sayalah yang terbaik. Makanya, 6 bulan berjalan majalah itu, Saya dipercaya duduk sebagai Wakil Pemimpin redaksi mendampingi Bapak Ridwan Muhammad. Bahkan, hampir 100 persen isi majalah itu hasil buah tanganku. Saya juga banyak belajar bagaimana membuat berita khas majalah, memimpin teman-teman, dan sebagainya.

Ketekunan saya menjalani profesi itu sambil menyelesaikan perkuliahan ternyata menjadi perhatian petinggi Harian kendari Pos saat kunjungannya ke Kolaka, namanya Bapak Benyamin Bittikaka (General Manager Kendari Pos), belia mengajakkku untuk bergabung. “Sayang kalau kamu di majalah seperti ini, lebih baik bergabung dengan kendari Pos, tiap hari beritamu muncul, dan kamu bisa dapat gaji yang layak,” kata Pak Benyamin.

Sebenarnya dalam hati kecilku, hari itu juga mau pindah ke Kendari Pos, tapi saya masih menghormati bapak H Syamsu Alam yang telah membersarkanku, tapi Pak Haji juga paham, bahwa saya di incar Kendari Pos. Beliau bilang sama Pak Benyamin begini. “Boleh, asal dia diberi upah yang layak, dan tetap membantu Majalah Info” katanya. Keihlasan kedua tokoh ini saya belum langsung sahuti, bahkan saya menjadi malu jadinya, jadi aku tetap bertahan di majalah ini hingga tahun 1999, sambil menyelesaikan perkuliahanku, tentu dengan biaya sendiri, apalagi saat itu saya masih membujang.

BERHENTI KULIAH

masih berstatus sebagai wartawan, kuliahku pun berjalan dengan baik. Namun suatu ketika (saya lupa waktunya) di kampus saya banyak berbenturan dengan para dosen yang banyak ‘kuprotes’ karena jarang masuk memberi kuliah, belum lagi banyaknya pembayaran yang tak jelas untuk apa. Ini juga yang membuat saya dengan Alimuddin (ketua tingkat, sekaligus pengurus Filial STAIN) berseberangan pendapat. Saat itu saya sudah di semester VI, dan dekat-dekat mengkuti KKN. Tapi waktu berjalan, STAIN Kendari terjadi ‘keributan’ untuk menjatuhkan Ketua STAIN (rektor) yang saat itu dipegang Bapak Suaib Mallombassi. Dari Kolaka saya terbilang yang paling banyak ‘menggoyang’ beliau, karena ulah para dosen-dosen yang tidak becus dalam memberikan perkuliahan, apalagi saat itu saya dipercaya teman-teman sebagai Ketua UK-Pers STAIN Kendari Filial Kolaka.

Idealisku ternyata memperuncing hubunganku dengan para dosen dan ketua tingkatku, pada sebuah perkuliahan saya mengatakan akan berhenti jadi mahasiswa, kalau modelnya seperti itu. Dosen dan rekan-reklan mahasiswa lainnya pada kaget. “Berani sekali” pikiran mereka. Saya tak tanggung-tanggung menyatakan berhenti jadi mahasiswa di depan mereka. “Hari ini saya akan keluar dari mahasiswa STAIN, percuma kuliah kalau modelnya seperti ini, bagaimana nasib bangsa kedepan” ungkapku dengan lantang dihadapan dosen, seraya mengemasi buku-buku dan keluar dari ruangan tanpa pamit. Itulah akhir petualanganku sebagai mahasiswa di sana.

Banyak juga rekan-rekan yang membujukku untuk ‘masuk kampus’ kembali, dan mereka paham kalau saat itu situasinya sangat emosional. termasuk Pak Alimuddin, ketua tingkatku masih membujukku. tapi tekadku sudah bulat untuk keluar, dan jujur Saya membawa dendam untuk ‘membongkar’ aib STAIN di media massa. Inilah yang ditakuti teman-teman dan para dosen, apalagi di Kendari, goyangan kepada rektor begitu kuat, dan harus lengser pada saat itu juga. Inilah akhir karirku di kampus berbasis pendidikan Islam itu.

Tahun 2000, saya masih di Majalah Info Sultra. desakan Bapak Benyamin Bittikaka untuk masuk ke Kendari Pos juga begitu kuat, saya juga mulai berubah pikiran, apalagi usiaku saat itu 26 tahun mengajakku untuk hidup berkeluarga, ingin beristri dan punya pekerjaan yang layak. bersamaan dengan itu majalah Info Sultra sudah ‘macet’ terbitnya. Sehingga pilihan bergabung dengan Kendari Pos begitu kuat. Namun ada saja yang menjadi penghalang saya masuk di sana.

Suatu ketika rekan saya Takwa Rahman (Wartawan kendari Ekspres, yang juga mantan wartawan harian Kendari Pos) ‘mendidikku’ untuk menjadi wartawan harian. Beberapa kali reportaseku di muat di Kendari Ekspres, apalagi liputan di desa-desa, dan saya terbilang ‘freelance’ dari Takwa Rahman, namun jujur tidak diketahui pihak Redaksi harian kendari Ekspres di Kendari. Tapi Takwa mengatakan, tak perlu takut, yang penting jangan melacurkan profesi. Saya paham, karena memang di Kolaka, banyak wartawan yang tidak jelas media penerbitannya. Tapi Saya juga harus jujur, kalau namaku di Kolaka, sudah cukup dikenal dari kalangan pejabat, LSM dan tokoh-tokoh di sana, sehingga aksesku untuk mendapatkan duit kebutuhan sehari-hari tidak terlalu sulit. Bilang saja, insya Allah ada saja yang memberi. Apalagi saat bersamaan saya juga terbilang aktifis pramuka Kolaka, yang sedikit punya nama di Sulawesi Tenggara, khususnya insan-insan Pramuka ‘bumi anoa’ ini.

Memasuki Tahun 2001, hasrat untuk menikah sudah begitu besar, apalagi saya pernah gagal menikahi rekan PNS saat akau menjadi guru honor di SMP Toari. Kuungkapkan semuanya kepada kedua orang tuaku. Tapi apa daya, orang tuaku mengatakan tunda dulu, kita tak punya apa-apa. Oh, ya, perempuan yang kutaksir itu adalah Harsinah Eshaya, ia gadis Buton berdomisili di Kota Bau-Bau, dan teman-teman pramuka-ku, maklum beliau adalah pengurus DKC Buton, sama dengan posisikudi kabupaten Kolaka. Percintaanku dengan Harsinah, hanya dua kali ketemu, saat Perkemahan Wirakarya nasional di kendari dan saat Musyawarah penegak-Pandega Se Sultra juga di Kendari, kami lebih banyak berhubungan melalui telepon. tapi niatku menikahinya menjadi besar, apalagi saya pernah ke Bau-Bau menjengukknya sekaligus mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya dan juga kepada orang tuanya. Alhamdulillah tidak ada masalah. semuanya berjalan dengan lancar, satu-satunya kendala adalah faktor ekonomi orang tua. mau menikah dengan cepat uang nggak ada. Tapi yang pasti lamaranku ‘secara tidak resmi’ sudah kulakukan. Orang tua pusing tujuh keliling, karena tentu butuh uang banyak, apalagi jarak antara Kolaka dan Bau-bau sangat jauh, dipisahkan dengan lautan. Kolaka di jazirah Sulawesi tenggara, sementara Bau-Bau terletak di Pulau Buton, tetapi masih dalam satu provinsi.

Mungkin namanya jodoh, ada saja uang transpor kuperoleh, dan saya pernah mengajak orang tuaku ke Bau-Bau untuk melamar. singkat cerita, diputuskan tanggal 24 Oktober 2001 hari rabu sebagai hari pernikahanku.Saya dan Bapakku, nekat ‘mengiyakan’ putusan keluarga calon istriku itu. Kusebut nekat, sebab tak ada sama sekali uang orang tuaku, yang ada hanya ongkos PP Kolaka-Bau-Bau. Yang penting tunangan dulu, dan Saya tidak di cemooh orang kalau saya mendekati calon istriku itu. Kejadian itu kira-kira bulan Mei tahun 2001.

Di Kolaka, kuceritakan semua ini pada bapak H Syamsul Alam, bos besarku, beliau bilang tidak ada masalah, nanti di bantu, nanti, nanti, nanti. Begitu juga dengan bapak Ridwan Muhammad, Bapak Takwa Rahman, orang dekatku, beliau siap mencarikan Saya uang untuk pernikahanku. Ini juga yang memotivasi keluarga untuk tidak perlu takut dengan kesiapan pernikahanku itu. Saya juga begitu, apalagi saya dikenal sebagai wartawan, cukup banyak relasi yang bisa membantu.

MENIKAH

Dengan susah payah, pernikahanku jadi juga dengan tepat waktu, tepatnya Hari Rabu, 24 Oktober 2001. Aku resmi menikahi Harsinah Eshaya A.Md, seorang alumni STIE Bongaya Makasar, aktifis LSM di Yayasan Buana Hijau Bau-Bau yang dipimpin Ir Muhlis (kini Almarhum), dan juga aktifis Pramuka Buton kala itu. Tak ada utang piutang yang ditinggalkan oleh pernikahan kami (seperti layaknya banyak orang). Pernikahankupun cukup meriah dengan ukuran ekonomiku. Tentu karena pesta pernikahanku dilaksanakan di Gedung Bayangkara Polres Buton dengan haru biru. Saya bangga rekan-rekan wartawanku asal Kolaka juga hadir, termasuk Kakanda Asdar Misbach, pegawai Polhut Kolaka yang menjadi teman kos-ku di Kantor Kehutanan.

Sedikit lucu dengan pernikahan ini, bukan karena saya diarak ala bangsawan bugis-makasar, tetapi ketika pesta hampir usai, pengantin dipersilahkan foto-foto dengan keluarga. Tapi hanya beberapa kutipan, saya langsung tinggalkan arena pesta sendirian, istriku sendiri masih di pesta bersama orang tuaku. alasanku usai pesta saya harus rapat managemen dengan para para wartawan yang kebetulan menghadiri pestaku. rapat ini dipusatkan di Hotel Ratu Rajawali Bau-Bau.

Lebih lucu lagi, meski saya tinggalkan pesta itu (tapi tidak ada masalah dengan keluarga istriku), saya pulang buru-buru dengan diantar oleh ojek menggunakan baju pengantin. (harusnya diantar pakai mobil, layaknya pengantin umumnya. Tapi saya anggap biasa, meski orang terheran-heran. Sampai dirumah mertua, saya langsung ganti pakaian biasa, dan menuju hotel. Lupa kalau make up ku belum terbuka. Pas sampai di hotel, saya menjadi bahan tertawaan teman-teman.

Rapat itu berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari, saya pun kembali setelah diantar rekan-rekan wartawanku menemui istri tercinta, itulah sepenggal kisah hidupku sampai ke jenjang perkawinan. ( selanjutnya Baca  KELUARGA KECILKU)…

Responses

  1. hebat…salut atas kemajuan yang dicapai sejak meninggalkan kolaka..saya mau sekali jalan2 kesana melihat kota harapan yang penuh pesona dan keindahan.salam buat keluarga dan teman2 di sana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: