Di Kendari Pos

koran1Hidup memang sebuah misteri. selang 4 hari setelah pernikahanku, aku diterima masuk di Harian Kendari Pos, sebuah harian terbesar di Sulawesi Tenggara group Jawa Pos. Awalnya dari tawaran pak Benyamin Bittikaka, kolega pimpinanku di Majalah Info Sultra yang sudah lama kugeluti. Jabatanku sebagai Wakil Pemimpin redaksi sebelumnya di majalah Info Sultra bukan jaminan kalau akau bisa menduduki pos penting di harian tersebut.

Singkat cerita saya harus mulai dari nol dengan status magang. Ini memang tangga yang harus dilalui, tapi talenta jurnalistikku membuat aku cepat naik status menjadi calon reporter..lamanya kurang lebih 3 bulan  dengan honor sesuai dengan input berita yang termuat. Posisi sebagai calon reporter inilah yang membuat pimpinanku mengirimku ke kembali Kolaka sebagai wartawan daerah. Di kota Kakao itu, namaku makin berkibar, pejabat tak satupun yang tidak mengenalku, apalagi dikenal sebagai wartawan yang kritis. 3 bulan kemudian statusku menikat sebagai wartawan dengan status karyawan penuh. Gaji pun cukup untuk makan berdua dengan istri. Kebetulan aku kost dibilangan kota Kolaka tepatnya di KM 3, pusat pemerintahan di Kolaka. Kepiawaianku mulai dikenal setelah memborbardir DPRD Kolaka, dengan membongkar kasus DPRD disana yang disebut “kelompok 13”..yang pada akhirnya mereka ter-PAW- semuanya. Menurutku ini prestasi pertama yang kuraih di Kendari Pos.

Tapi entah mengapa, tiba-tiba ada panggilan dari kantorku di Kendari untuk segera pindah ke Bau-Bau, kampung istriku, alasannya, di sana butuh reporter sepertiku. Pimpinanku menyebut, aku sangat produktif, sehingga Bau-Bau perlu input wartawan. Jujur aku menolak saat itu. saya bingung ada apa terjadi. usut punya usut, ternyata ada pihak yang bermain dengan ‘kasus’ yang kubongkar. sebagai wartawan tentu aku malu, sebab ada saja pihak yang ingin meruntuhkan idealismeku saat itu…

Lama berpikir, tawaran itu aku terima, itung-itung istri pulang kampung. Kehadiranku di Bau-Bau juga membesarkan hati pimpinanku untuk menjadikan Bau-Bau sebagai Biro Kendari Pos. Ini kujalani hingga tahun 2005, dimana setelah berkiprah disana, Bau-bau memang tepat untukku untuk membenah diri.

Sebagai kepala keluarga, disanalah aku dirikan pondokku, dan alhamdulillah pada tahun 2004 isiku diterimasebagai PNS di Pemerintah Kota Bau-Bau. Kiprahku sebagai jurnalis di Bau-Bau lagi-lagi cepat dihitung oleh pengambil kebijakan di daerah ini. Jujur saja, aku seperti ‘di anak emaskan’ oleh pejabat. Mungkin karena talenataku untuk mengkritik begitu kuat. Posisi ini juga mengantarku terpilih sebagai anggota Panwaslu Kota Bau-Bau pada Pemilu 2004 merwakili unsur pers. lumayan juga honorku saat itu, mencapai angka 2 jutaan.

Namun kadang pula saya dipanggil ke Ke Kendari untuk menjadi Redaktur pengganti, jika salah seorang redaktur saya berhalangan masuk. Singkat cerita Kendari Pos menjadi besar di Bau-Bau, dan pada saat itu, sekitar awal 2005 aku dapat job baru untuk diangkat sebagai Kepala Biro, tetapi harus di kembalikan ke Kolaka. Aku menolak, dengan alasan istri saya PNS di Bau-bau dan aku juga sudah punya rumah sendiri. Kenapa harus ke Kolaka? ada apa lagi?

Pikiranku, biarlah saya menjadi wartawan biasa di Bau-Bau, dari pada harus kembali ke Kolaka dengan jabatan Kepala Biro. Pertimbangan pimpinanku masuk akal, aku dinilai ‘orang kolaka’ yang bisa mengangkat citra kendari Pos di sana. hanya saja pertanyaanku, kok baru sekarang, kenapa waktu akau di Kolaka aku dipindahkan ke Bau-Bau.

bahkan pimpinan perusahaanku saat itu mas Purwanto Sanam mengatakan, “zah, terima saja, nanti kalau Radar Buton berdiri, you kembali ke Bau-bau dengan jabatan sebagai Pemimpin Redaksi, minimal redaktur pelaksana, you orang yang tepat di Kolaka,” katanya.

Sebenarnya aku punya niat juga kesana, tapi alasan yang pernah terungkap sebelumnya mengurunkan niatku. bahkan dengan segala resiko, aku siap terima kalau harus ke Kolaka lagi, meski dengan ‘dipecat’nya aku dari media kenamaan Sultra tersebut. tetapi kemudian, tawaran itu berhenti, enatah kenapa.

Pada saat yang bersamaan, ada perasaan bosan di kendari Pos, maklum 5 tahun lamanya aku berkiprah disana. Ada perasaan ingin lepas dari ikatan kuat Kendari Pos. Dan, pada sauatu waktu aku ketemu kepala Biro Bau-Bau, pak Witir namanya. Kubilang, “pak aku mau mundur saja, biar aku istirahat dulu, dan mencarai apa yang sesuai dengan nuraniku”. beliau tak bisa memaksa, namun beliau mengingatkan jika aku masih dibutuhkan kendari Pos.

bak gayung bersambut, aku Ke kendari, dan ditanganku sudah ada surat pengunduran diri. Kuajukan kepada redaktur daerah dan Pimpred-ku saat itu. Beberapa redaktur mencegahku, termasuk pimpinan perusahaan, namun tekadku bulat untuk mundur, meski tanpa restu dari pimpinan. Karena aku ngotot, maka tak ada yang bisa memaksa. Dan aku mundur dari Kendari Pos atas permintaan sendiri, dengan alasan, ingin menyelesaikan kuliahku. termasuk kuliah istriku.

Biasanya, kalau ada karyawan mundur, maka tak ada pesangon baginya, terkecuali yang kena PHK, namun entah kenapa pimpinan perusahaan memanggilku, dan berkata, “zah, you termasuk orang berjasa di sini sehingga ada sedikit pesangon untuk anda, terimalah,” ujar mas Purwanto kala itu. Jumlahnya cukup besar buatku, Rp 5 jutaan.

Meski begitu aku tetap menjalin kontak dengan teman-teman disana meski aku bukan wartawan di sana lagi. bahkan setiap ke Kendari aku tetap bertandang di eks kantorku itu, sekedar mejalin ikatan silaturrahmi, bahkan terkadang masih ada tawaran untuk kembali bergabung disana.

Selepas kendari Pos, aku ‘nganggur’ 3 bulan. Bingung juga, mau kemana aku. Di Bau-Bau sendiri, ada media mingguan namanya Berita Keraton. aku diajak oleh pimpinan umum yang juga kerabatku namanya, Fajar Ishak daeng jaya, dengan posisi penting sebagai Pimpinan redaksi. Dari pada nganggur aku terima saja. Namun hanya 6 bulan aku kelola media ini aku mundur. dan seiring kemunduranku, media ini juga bubar.

Sekitar bulan Juni 2005, aku dipanggil Walikota Bau-bau, Bapak Amirul Tamim beliau sering menjadikan aku sebagai konsultan komunikasi, dan karenanya beliau mengajakku untuk ikut test PNS. Singkat cerita aku terima, dan lulus sebagai PNS, sehingga kesibukanku sebagai orang media tertutup dan berkiprah menjadi PNS.

Tapi namanya juga orang media, begitu lulus aku dipercaya mengelolah media cetak daerah, namanya majalah bau-bau, juga ada TV lokal, sehingga ‘darah’ jurnalistikku tetap mengalir meskipun dalam status sebagai aparatur pemerintah..(**)

Responses

  1. mantap critanya…

  2. akhirnya aku tahu jalan ceritanya, dan ada beberapa yang bisa kupetik……!

  3. menarik….semoga anda tetap kritis,walaupun sekarang sudah jadi PNS.
    cheers

  4. kalu dulu kamu punya idealisme sebagai korektor bagi pemerintah, kini kamu harus rela menerima sistim yang ada dalam birokrasimu, benar salah tidak jadi masalah, yang penting asal bapak senang oceiiii bosss

  5. Mungkin cerita ini menarik jika dibuat buku dengan menyertakan file tulisan yang bernah dibuat bapak selama menjadi wartawan Kendari Pos. Kami akan senang menyambutnya!

  6. no…coment

  7. Panjang mantap gan ceritanya

  8. PNS masih tetap primadona yah.

  9. Sekalian bikin bukunya…..!

  10. Hebat euy,,, :)
    Semoga Bapak sukses selalu…

  11. Wah, memang bagus jalan critanya,bahkan sdh itu yang baik idealis jd PNS, karna di rasakan sampai seumur hidup…bahkan bs jg bakat lama di kembangkan di T4 birokrasi pemda’ key smoga ttp Sukses “

  12. tlong pak kmps catur sakti di sorot ke media krna sikap pihak kmpus yang se enaknya mnguras mahasiswanya tnpa alasan yang jlas…..Tks seblmnya pak…

  13. kami mohon pak kerja smanya krna kmi sbgai mahasiswa merasa sangat d rugikN…….

  14. Tapi namanya juga orang media, begitu lulus aku dipercaya mengelolah media cetak daerah, namanya majalah bau-bau, juga ada TV lokal, sehingga ‘darah’ jurnalistikku tetap mengalir meskipun dalam status sebagai aparatur pemerintah..(**) Like statement

  15. mantap om kisanya

  16. ceritanya mantap,,,smoga bsa jdi pelajaran….

  17. Cerita yang menarik , ada sedikit Pencerahan ,bahwa sanya terkadang Orang yang dekat dengan pemerintahan bisa Terciprat Jabatan . walikota yang menyuruh mendaftar PNS dan lulus.
    Semoga saja tetap Idealis dan Kritis Setelah jadi {PNS} , karena ditakutkan idealisme nya Luntur karena Jabatan ..
    Semoga saja Bapak bukan orang yang demikian .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: