Oleh: hamzah73 | Mei 14, 2010

Sartono, Komponis ‘Himne Guru’ Yang Merana, Siapa Peduli?

Jumat hari ini, pimpinan kantor saya mengingatkan bila peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei mendatang, sejokyanya juga menyemarakkan semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang baru saja berlalu peringatannya. Maklum sama-sama di Bulan Mei, jadi tak ada salahnya, bila para guru banyak dilibatkan. Seorang diantara kami pun ditugaskan untuk menghubungi paduan suara di salah satu sekolah di kota kami. Salah satu lagu yang dinyanyikan dalam aubade nantinya adalah ‘Himne Guru’, karya komponis besar Indonesia, Sartono.

Ragu lagu ‘Himne Guru’ ini telah dilupakan oleh banyak orang, makanya langsung mencarinya di ‘google’. Justru yang muncul lebih banyak, soal keprihatinan terhadap sosok Sartono, sang komponis besar yang banyak orang menilai bila Sartono telah tiada. Padahal, beliau masih hidup dan menikmati masa tuanya dengan penuh kesahajaan, bila tak ingin disebut hidup merana.

Dari beberapa sumber yang dihimpun, menyebutkan Sartono kini bertempat tinggal di Jalan Halmahera, Kota Madiun, Jawa Timur. Beliau hanya tinggal disebuah rumah sederhana namun asri dan lingkungannya yang amat bersih.’’Untuk mengisi waktu, setiap pagi saya menyapu dan bersih-bersih rumah,’’ ujar Sartono yang rambutnya telah memutih, katanya pada wartawan yang menyambanginya.

Nama Sartono memang tidak asing lagi bagi dunia pendidikan. Pada era 1980-an, nama pria itu sempat melambung dan dikenal di seantero negeri. Bahkan, namanya kembali kerap muncul dalam pemberitaan pada 2000. Ya, Sartono yang menciptakan lagu Himne Guru. ’’Meski sudah tidak lagi bekerja, saya masih sering diajak keluar kota untuk mengisi acara hari pendidikan nasional,’’ terangnya.

Disebutkan, Sartono mengajar di SMPK Santo Bernadus sejak 1978 dan purnabakti pada 2002. Namun, dia tidak berhak atas uang pensiun karena statusnya bukan pegawai negeri sipil. Untuk kehidupan sehari-hari, Sartono mengandalkan gaji Damiyati, istrinya, yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah dasar negeri. ’’Kalau kehabisan uang untuk membeli sarapan, biasanya saya dikasih uang sama keponakan,’’ terangnya.

Di usianya yang menginjak 74 tahun, tidak banyak yang dilakukan Sartono. Dia tidak lagi mengajarkan seni musik. Namun, cinta Sartono pada musik masih kental. Dia mengaku masih sering memainkan organ pemberian salah seorang koleganya. ’’Saya juga masih sering bantu-bantu teman untuk menggubah lagu,’’ terangnya.

Sartono mengaku tidak menyesali pilihan hidupnya. Dia bangga dengan profesinya sebagai guru musik meski gajinya saat itu hanya Rp 60 ribu per bulan. Sartono juga tidak ambil pusing ketika kawan-kawannya ikut bersedih melihat nasibnya sebagai guru di lembaga pendidikan swasta. ’’Saya selalu memasrahkan hidup kepada Yang di Atas. Keadilan itu milik Tuhan,’’ katanya.

Usia boleh senja, tapi Sartono masih bersemangat dan terlihat bugar. Hari-harinya kini diisi dengan membaca surat kabar dan bermain dengan kucing piaraannya. Aktivitas itu dilakukan sambil menunggu sang istri pulang dari mengajar. ’’Kucing ini ada yang milik saya, ada juga yang bukan. Tapi, tetap saya pelihara dan dikasih makan,’’ terangnya.

Sartono yang kini hidup dalam kesederhanaan dulu dikenal sebagai maestro seni musik. Karyanya cukup melegenda karena menjadi lagu wajib upacara di sekolah. Terlebih, bersamaan dengan peringatan Hardiknas. Himne Guru yang diciptakan 30 tahun lalu itu menjadi pemenang dalam lomba cipta lagu yang digelar Departemen Pendidikan Nasional. ’’Saat itu saya mengalahkan 330 peserta yang lain,’’ terangnya.

Hadiah uang yang diperoleh dalam lomba itu cukup lumayan, Rp 750 ribu. Dia juga dikirim ke Jepang bersama guru teladan yang lain. Demikian cerita pilu Sartono yang teramkum di www.portalmadiun.web.id dan www.radarjogja.co.id .

Ternyata, jauh dari Kota Madiun, Jawa Timur, tepatnya di Kota Kolaka Sulawesi Tenggara, sebuah Perguruan Tinggi bernama Universitas Sembilanbelas November (USN) yang dulu bernama STKIP (Sekiolah tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Kolaka, baru-baru ini juga melakukan aksi peduli terhadap sosok Sartono.

Dibawah kordinator sang Rektor, DR. Azhari, SSTP,M.Si, USN melaksanakan ‘Gerakan Seribu Rupiah’ untuk Sartono. Dalam paparannya, Azhari mengingatkan siapapun Sartono hari ini, beliau telah ‘mengorbankan’ dirinya untuk sebuah pengabdian tulus pada bangsa dan Negara. Beliau juga telah mengangkat derajat seorang guru, sebagai sosok ‘pembentuk watak’ anak negeri, meski dirinya sendiri hanyalah seorang guru yang berstatus Guru Honorer, hingga ‘pensiun tanpa gaji pensiun’. Pedulikah kita?

Berikut lirikan lagu ‘Himne Guru’:

Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak guru

Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir, di dalam hatiku

S’bagai prasasti t’rima kasihku, ‘tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan Bangsa tanpa tanda jasa…….

Baubau, 14 Mei 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: