Oleh: hamzah73 | Februari 2, 2010

Revi, Gadis Kecil Penyengat Hatiku…

Penulis : Hamzah

Matanya binar memancar, mimiknya sesekali tampak serius, bibir mungilnya terus bergerak…dia meronta kecil seolah memberi pesan moral dan berkata…”Ayah mau kemana..jangan tinggal Revi sendiri..!.. Revi gadis kecilku yang sebentar lagi pas berusia lima tahun di  4 Pebruari ini, membawa anganku kemasa silam..membawa lamunanku pada kehidupan orang tuaku yang sangat membutuhkan kehadiran seorang ’anak perempuan’ dalam lingkungan keluarga kedua orang tuaku…

Maklum, aku yang menjadi orang tuanya memang tak punya saudara perempuan..dari enam orang bersaudara dan yang ’hidup’ empat orang, semuanya lelaki. Bahkan konon ibuku, rajin hamil hanya didorong keinginan untuk memiliki anak perempuan. Namun, sampai kehamilan ke-enam, tak satupun perempuan terlahir darinya. Bahkan setelah anak-anaknya dewasa dan menikah, saudara-saudaraku hingga saat ini juga belum dikaruniai anak perempuan. Praktis Revi-lah, anak cucu perempuan satu-satunya dalam keluarga besarku..

Karenanya, wajar jika Revi begitu dipantau perkembangannya oleh kakek-neneknya dan juga saudara-saudaraku…Banyak yang ’menerawang’ jika Revi adalah ’pembuka kunci’ kemiskinan keluarga kami sejak dulu…Benar atau tidak, kelahiran Revi di tanggal 4 Pebruari 2004 silam, seolah menjadi sinyal perubahan kehidupan kami sekeluarga…kami merasakan ada getar ketenangan dalam hidup ini..Kakek-neneknya pun demikian, kemiskinan yang melandanya berpuluh-puluh tahun, perlahan memudar…Revi seolah menjadi ’karomah’ dalam keluarga kami…Ya Allah..cukupkanlah rezki dan umur bagi putriku ini….

Revi Rabiyatul Adawiyah begitu nama lengkapnya…..namanya terispirasi dari seorang wanita pejuang muslim Rabiyatul Adawiyah, yang rela menjaga kesuciannya demi cintanya kepada Sang Pencipta…

Nama sekaligus cita-cita bagi kedua orang tuanya…..cita-cita, agar Revi bisa menjadi ’penyegat hati’ keluarga…… cita-cita agar Revi bisa menjadi wanita tangguh yang tetap memegang keimanan ditengah rapuhnya moral manusia…..cita-cita agar Revi bisa membahagiakan orang tua dan kakek neneknya, meski hanya hidup dalam kesederhanaan…

Seperti Kakaknya Reva dan adiknya Noval,… Revi  begitu menjadi istimewa bagiku…ia tak hanya menjadi putri satu-satunya, tapi diusianya yang sebentar lagi lima tahun, Revi telah menjelma menjadi ’guru’ bagi sang kakak dan adiknya….

Revi yang masih duduk di kelas ’nol besar’ TK Islam Syekh Abdul Wahid di Kota Bau-Bau, kerap menjadi ’komando’..kelincahannya dalam beretorika, dengan komunikasi verbal yang cukup baik menjadi modal dalam ’memimpin’ kedua saudara lelakinya…

Terkadang ia mengajarkan Bacaan surat-surat pendek Alquran, kepada kakak dan adiknya..bahkan terkadang ia menceritakan kondisi Surga dan Neraka, sebuah cerita yang sebenarnya belum masuk dalam level umur Revi…tapi kadang celotehnya, membuatku bangga, kalau sebenarnya inilah yang dibutuhkan perkembangan anak dalam kondisi carut marutnya moral anak bangsa saat ini…meski terkadang ada keraguan, kalau Revi terlalu dipaksakan untuk mencerna, apa yang sebenarnya belum bisa ia cerna…

Sebagai seorang Ayah…kehadiran Revi benar-benar menjadi penyengat…ia juga menjadi tarikan nafas bagiku dalam berbuat sesuatu…maklum, lelaki sepertiku, manusiawi jika masih mencintai wanita lain selain ibunya..dalam posisi ini, celotehan Revi melemahkan syahwat duniaku…Revi benar-benar menjelma bagai ’bidadari’ penegur dikala kulupa diri…Bahkan, bagi ibunya Revi menjadi ’penawar’ dikala kesendiriannya, tempatnya bercanda, tempatnya bercerita tentang keperempuanan, meski sebenarnya Revi belum tahu apa yang sebenarnya diperbicangkannya. Revi telah menjadi anak sekaligus teman bagi ibunya….

”Etta, apa sih itu PNS”

”Etta, mau Sekolah lagi? Etta kan sudah besar, kenapa?”

”Etta, apa yang dikerja kalau orang di kantor?”

”Etta, saya mau jadi polisi wanita..”

”Etta, saya mau jadi dokter gigi..”

Itulah seribu satu pertanyaan yang ditujukan kepadaku sebagai ayahnya. (Etta, panggilan khas org Bugis kepada sang ayah) seolah menyontakkanku, untuk memberinya perhatian lebih…

Tapi satu hal yang membuatku terperanjat sadar, ketika ia bertanya;

”Etta, Saya mau jadi Penghafal Alquran…”

Sebuah pernyataan yang lahir dari anakku, yang mengingatkanku akan ’kejauhanku’ dengan Sang Pencipta…sebuah pertanyaan yang membuatku sadar, bahwa Sang Ayah memang perlu membimbingnya untuk menjadi seorang wanita muslim tangguh, seperti sosok Rabiyatul Adawiyah, radiallahu anha…

Revi, ayah hanya bisa mengucapkan..Selamat ulang tahun….Terima kasih sayang…kamu telah menjadi inspirasi dalam hidup ini…meski cinta ayah terbagi kepada yang lainnya, namun kamu tetap menjadi permata terbaik dalam hidupku….Hidupmu adalah hidupku………(**)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: