Oleh: hamzah73 | Januari 11, 2010

Asmara Kerinduan Ditepi Keraguan

Cerpen : Hamzah

Dia masih saja tak mengakui…dia belum jujur sepenuhnya, jika dirinya sudah mencintai…Dia hanya terpaku dengan kesendiriannya, disebuah tepi kamar di kelam malam pondokan Jakarta sana..
Yogi..nama yang indah, ia menopang dagu berpikir masa depannya..hatinya berbicara..logikanya berjalan..bicara dan berjalan dalam keraguan untuk memiliki seutuhnya…

Egoisme pikiran begitu menghantuinya..trauma dengan cerita-cerita lampau..namun Yogi tak ingkar dengan kata hatinya…
”Kak, saya menyayangimu seperti Kakak kandungku sendiri” pikirannya masih mengelak…
”Saya tak ingin cintaku terbagi buat orang lain” hatinya mulai jujur…
”Kak, jangan tinggalkan Yogi sendiri dalam kesepian” bulatlah kejujurannya…

Yogi terus menapaki malam..helaian rambut kecilnya bermain diatas kening dan mata indahnya…….tersibak karena jilbab yang menutupinya diuntainya dalam kesendirian..
Yogi bernafas panjang..dia seolah larut dengan cinta sucinya..cinta yang jarang ditemukan di era kekinian..
Cinta yang seolah menghadirkan masa lalu..
penuh keindahan..romantisme..dan deru hati yang mengebu…
Cinta yang bisa meruntuhkan segalanya, yang bisa memperpendek jarak..
Bisa menghalau badai dan bisa menguatkan fisik yang lagi sakit..

Yogi terus melenguh membelah malam…mengharap sesuatu yang jauh karena jarak…
Hatinya mulai meronta..malam itu ia ingin miliki sepenuhnya, membayang seorang pria yang mulai merasuk di relung impiannya..Dia bermain dengan bayang-bayang, bermain dengan ilusi…Ia merasakan sesuatu yang ingin dilawannya…melawan cinta yang separuh telah ’dimiliki’ orang lain…

”Kak, kapan ya kita bisa merayakan ’July Sweet’ bersama?”
”Kak, kita berdua ditepi pantai, atau di puncak,jauh dari kebisingan kota?”
”Kak suatu saat kita bisa bertemu, Insya Allah”

Tiga bait ungkapan Yogi mengalir dalam bait pesan-pesan pendek ponselnya…
Yogi mulai memberanikan diri mengungkap isi hatinya, yang sebenarnya sejak awal dia lawan…karena Yogi sadar…impiannya, telah menjadi milik orang.

Wssttttt…..pesan pendek itu terbalas…monitor ponsel itu penuh dengan bait kata….
”Sayang, andai saja kuberada disampingmu malam ini..akan kudekap dirimu erat..
Tak melepasmu hingga mentari menyingsing..biarlah rasa dan degup kasih ini kau dengar..biarlah dia bicara..bahwa rusuk ini bukan hanya miliknya..tapi juga milikmu…”

Baitan kata-kata itu makin melarutkan Yogi dengan pria-nya di kaki Pulau Sulawesi sana..keduanya seolah hadir disebuah pojok kamar…tak ada nafsu..yang ada hanya cinta..cinta tulus yang lahir dari keabadian…

Pukul 24.00 malam…denting jarum jam membangunkan lamunan Refa, pria yang sebenarnya dicintai Yogi dalam kejauhan..
Tersadar kalau ada perbedaan jarak waktu…Refa bergumam lirih…
”Sayang, kuingin memberi semua tanpa mengorbankan sesorang”..
”Sayang…tahukah kamu, jika kita bisa mewujudkannya…”
”Mewujudkan dalam deru bibir pantai, atau sepoi angin puncak, jauh dari keramaian”
”Berdoalah..semoga Tuhan melihat cinta suci anak manusia..”

Yogi dan Refa tak tahan lagi hanya dengan pesan-pesan singkat…keduanya pun bersuara..
Keduanya saling bicara..dalam rintihan asmara kerinduan ditepi keraguan…
”Sayang aku pulang dulu”
””Esok, pagi menanti dengan indah”
”Selamat malam, I Love You” Refa memohon.

”Kak berhentilah berbicara..sebab rasanya sakit mulai datang…
”Rindu mulai merendam…nafas mulai tersengal.
Kak…selamat malam…impikan aku dengan cintamu yang indah….(**)


Responses

  1. Jangan ragu-ragu..

  2. Cinta tak harus memiliki…

    Cinta sejati kn bahagia bila melihat orang yang dicintainya bahagia…walau memendam rasa perih yg tak tersirat…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: