Oleh: hamzah73 | Januari 10, 2010

Aku Bayar Yang Dulu Pernah Aku Makan

Namaku adalah laki-laki yang menggendong gitar sebagai busur yang selalu merunduk di atas awan dan teman-teman memanggil aku Kabul. Usia? kira-kira 25 tahun.

Ini kali pertama aku menginjakan kaki di kota impian, Jakarta. Di sinilah, ya, aku tegaskan lagi disinilah, di samping penjual rokok dan kopi dan aneka macam kue yang letaknya agak jauh dari loket kereta, menjadi pijakan pertamaku untuk mencapai tangga kesuksesan menjadi seorang pemusik terkenal seluruh dunia. Dan si penjual rokok itu, yang mukanya seperti habis dioperasi plastik oleh dokter yang tidak lulus kuliah kedokteran dan mungkin seorang pemabuk akan menjadi saksi pertama kalinya aku menginjakan kaki di kota besar ini, suatu saat, dia akan melihat tampangku di majalah atau televisi dan berkata,”Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana. O, di stasiun kereta di pagi hari yang berkabut dengan muka mengkilat karena berminyak.”

Aku mengusap kulit wajahku dengan ujung lengan baju dan terlihat kotoran warna hitam yang menempel.
Seseorang menepuk pundakku dan aku berpaling. “Kita ke toilet,” katanya sambil berlalu. Aku mengikutinya dari belakang.

Kopi panas mengepul di dalam gelas di hadapanku. Ah, nikmatnya. Aku belum ingin meninggalkan tempat ini, aku harus membuat kesan seindah mungkin untuk tempat dimana pertama kalinya aku menginjakkan tanah harapan. Sebatang rokok kunyalakan, dan sedikit saja kopi di gelas kukecap. Angin berhembus menerbangkan ujung rambutku, aroma mimpi dan ketenaran tercium.
“Kemana tujuan pertama kita, kawan?”
Aku langsung tersadar oleh kata-kata teman di sampingku.”Makanya dari itulah kita menikmati kopi lebih dahulu untuk memikirkan kemana kita mesti pergi.” jawabku.

O, ya, aku lupa mengatakannya. Aku datang ke kota ini bersama tiga orang teman, yang duduk di sebelahku adalah seorang pemain bas yang tampangnya lebih cocok sebagai tukang cukur di pinggir jalan di bawah pohon, dan di sebelah teman pemain bas adalah temanku juga, seorang pemain drum, badannya atletis, maklum, bekas penabuh beduk di masjid dan ketika ada perempuan yang menurutnya cantik lewat di depan hidungnya ia suka memamerkan keatletisan tubuhnya namun bukan kelelaki-lakiannya yang muncul tetapi justru ketololan. Dan di samping penabuh beduk itu juga temanku, seorang vokalis, usia katanya 28 tahun, sudah beristri tapi belum memiliki anak, Saeful namanya, mukanya akan kemerahan ketika dipanggil evul, dan berani taruhan, ia akan bersedia menyepong ‘barangmu’ setelah kau memanggilnya dengan nama ‘evul cavalera’. Mak Jang! Kadang aku tidak percaya memiliki saeorang vokalis dengan tampang seperti itu, makanya wajar ia sering mengkritik penyanyi-penyanyi berwajah ganteng dengan menganggap mereka hanya jual tampang, karena sebenarnya dia merasa iri. Tapi apa mau dikata, semua vokalis ganteng akan memilih personil lain yang ganteng pula, akhirnya hanya tipe muka seperti dia saja yang mau menjadi vokalis bagi band kami. Jodoh datang berbanding lurus dengan kualitas diri.

Tapi oke lah, secara fisik kami mungkin kurang dari lumayan, tetapi yang penting musikalitas, betuul?
Aku terbangun oleh matahari yang sudah terik. Kulihat jam, baru pukul 10 lewat. Tiga temanku masih tergeletak di lantai stasiun beralaskan kardus. Penjual kopi tadi pagi sudah tidak ada lagi dihadapan kami, yang ada adalah para calon penumpang yang sedang berdiri di sepanjang sisi rel kereta api.

Segera saja aku bangunkan mereka satu persatu, setelah itu kami langsung beranjak menuju toilet. Dengan muka tertunduk malu, aku melintas menyeberangi rel kereta api. Ah, kenapa mesti malu, saya seorang pemimpi yang sedang menjemput kesuksesan. Keadaan ini hanyalah sementara. Lagian sepertinya orang-orang itu juga tidak perduli.
Lima belas menit kemudian kami sudah rapi, memakai baju bersih dan kulit beraroma sabun mandi serta rambut yang klimis oleh minyak. Sebuah tas penuh isi dan perlengkapan ‘perang’ menggantung di pundak masing-masing. Aku menggendong gitar dan temanku satu lagi menggendong bas.

Dari jauh kami melihat penjual kaset-kaset bekas, kami tersenyum dan saling pandang.
“Pertanda, inilah pertanda awal, kata buku-buku motivasi, orang yang ditakdirkan sukses akan mendapatkan pertanda awal sesuai dengan bidang yang diimpikannya. Dan kaset-kaset itulah pertanda awal bagi kesuksesan kami.” kataku pada teman-teman.
Kami berjalan menuju ke pedagang kaset itu.
“Hati-hati, di kota besar kita tidak boleh kelihatan lugu.” kata Si penggebuk beduk setengah berbisik.
Sesampai di depan penjual kaset, si vokalis berkata,” Berape harge yang ini, Bang?” tanyanya sambil memegang sebuah kaset. Kami tersenyum oleh logatnya yang sok betawi tetapi bercampur Solo.
“Goceng.” jawab penjual kaset itu.
“Bagaiamana kalau jinggo aja?”
Aku dan dua temanku yang lain menoleh pada si vokalis ini.
“Jinggo, berapa tuh?” tanya penjual kaset itu dengan jidat mengkerut.
Temanku itu mendekatkan mukanya ke arah penjual kaset itu, “Jawab dulu, kalau goceng berapa?” katanya pelan.
Plak ! Tangan pemain bas menepuk kepala si vokalis.
Kami berjalan di bawah terik matahari ibu kota. Kendaraan berbaris di dekat lampu merah. Dari kejauhan terlihat pucuk monas, tiba-tiba si tukang cukur pemain bas berteriak sambil meloncat seperti anak kecil yang selama seratus tahun baru bertemu bapaknya.
“Monaas!”

Sepuluh menit kemudian kami sampai di tanah lapang, 100 meter dari tugu monas. Seperti columbus pertama kali menginjakan kakinya di tanah Indian, si pemain bas langsung berlutut, di raihnya debu-debu di aspal, dan mengangkat kepalan tangannya ke arah langit, membuka telapaknya, dan membayangkan seolah pasir jatuh beterbangan dari genggaman tangannya.

Hari menjelang senja, dan kami harus cepat-cepat mendapatkan tempat tinggal.
Ruangan berukuran 3 x 4 meter dengan kamar mandi berukuran 1 x 1 meter menjadi tempat bernaung kami dalam berjuang meraih impian. Saat itu pukul 7 malam. Kami membaringkan tubuh di atas lantai. Udara ibu kota benar-benar membuat otakku penat. Kami tertudur, berbaris di lantai seperti ikan yang di jual di pasar.
Satu minggu berlalu, kami habiskan sebagian besar waktu di kamar kontrakan ini. Sebuah poster Jimmy hendrix tertempel di tembok. Dialah guru, dewa sekaligus inspiratorku, juga inspirator vokalisku itu, karena memiliki wajah sama-sama jelek dan ia mampu menjadi legendaris.

Satu minggu berikutnya kami sudah memberanikan diri masuk ke klub-klub malam yang menyajikan musik live. Kami berkenalan dengan para pemusik di sana. Menjadi pemusik kafe adalah tangga pertama menuju kesuksesan.
Minggu berikutnya tidak ada perubahan yang mencolok dari kehidupan baru kami di kota besar selain lebih banyak tidur di siang hari dan begadang sampai pagi. Ya begitulah, seniman!
* * *
Namaku Jeff porcaro, aku selalu dipanggil Slamet oleh teman-teman. Tapi setelah sampai di kota ini aku memohon pada mereka untuk memanggilku Jeff. Usiaku 24 kurang enam bulan. Aku adalah veteran penabuh beduk di masjid, juga di acara-acara ritual keagamaan. Sebenarnya awal-awal aku bermain musik lebih berminat di vocal, tetapi teman-teman bilang aku lebih berbakat di drum, dengan alasan tentu saja instrument drum lebih memiliki kedekatan dengan beduk, dan alasan yang ke dua, katanya penampilanku akan lebih menarik di atas panggung ketika seluruh tubuhku tertutup oleh drum. Hmm, bisa jadi.

Hampir satu bulan sudah aku di ibu kota. Hal pertama yang aku pelajari selama menginjakan kaki pertama kali di Jakarta adalah kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena, tentu saja kamu tahu, di anggap kampungan gara-gara mengucap bahasa Indonesia yang tidak baik dan benar adalah sangat memalukan.
Pertama kali kupraktekan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah ketika hari pertama sampai di Jakarta. Sore hari aku dan tiga temanku mampir ke tempat penjual buah.
“Berapakah harga buah mangga ini?” tanyaku kepada penjual buah itu.
Teman-teman tertawa terbahak-bahak mendengar intonasi berbahasaku yang katanya mirip anak SD yang baru pertama kali belajar membaca.
Tapi ya sudahlah, namanya juga belajar.

Dari ketiga temanku yang lain, akulah kayaknya yang paling banyak menghabiskan waktu untuk tidur, karena ketika mataku melek, perutku selalu terus merasa kosong. Tidur adalah cara paling jitu mencegah keborosan. Selain ada satu cara yang lain, yaitu karena aku yang paling suka disuruh teman-teman membeli sesuatu entah itu rokok atau makanan ataupun minuman, aku selalu memakai uang mereka untuk makanan yang aku beli dengan alasan, uang jalan.
Adalah Samboja, begitu biasanya MC di panggung memanggil namanya, ia pemain basku, setiap hari aku panggil Samsudin, memang itu sebenarnya nama aslinya kemudian setelah menjadi pemusik tingkat Kecamatan berubah menjadi Samboja dan entah berubah menjadi apa lagi nanti setelah terkenal. Usia mungkin sekitar 27 tahun, sudah beristri dan belum memiliki anak.

Pada awalnya aku tidak heran melihat ia di dalam kamar kontrakan selalu buka baju dan hanya menyisakan celana kolor di badannya, karena memang keadaan Jakarta yang panas, tapi kalau sampai membuka seluruh pakaian tanpa sisa, dan itu dilakukan bukan sekali dua, pastilah membuat ketentraman kami terganggu.
Malam pertama tinggal di kamar kontrakan, Samsudin membuka baju dan hanya menyisakan celana kolor warna hitam di badannya. Pagi harinya, ketika aku terbangun, ia sudah berbaring di sampingku dengan telanjang bulat. Aku melompat seketika dan berteriak hingga membangunkan teman-teman yang lain. Teman-temanpun melakukan hal yang sama seperti aku ketika melihat tubuh Samsudin, melompat dan berteriak, sedangkan Samsudin hanya bangkit dengan muka bingung dan menatap kami dengan pandangan penuh tanya, setelah itu kembali berbaring dan tidur dengan muka tak bersalah. Hari-hari berikutnya ia sangat jarang memakai celana ketika sedang di dalam kamar kontrakan.

Dua bulan berlalu, tak ada perubahan. Si Kabul selalu mengisi jenuh dengan membaca. Macam-macam sudah bacaannya, ada puisi (entah apa maksud orang ini menulis kata-kata yang tidak pernah bisa dimengerti!), ada novel dan ia katanya paling menyukai buku-buku yang membangkitkan motivasi, buku-buku tentang mimpi. Dan ia akan memetik salah satu kalimat dari buku-buku itu ketika perut kami kelaparan dan persediaan di kantong semakin menipis. Sementara tubuh telanjang Samsudin juga bukan suatu solusi meski dengan melihat buah zakarnya yang hitam menggantung seperti pentung kentongan di pos ronda membuat selera makan kami hilang, tetapi lebih baik kelaparan daripada menghilangkan selera makan demi penghematan dengan melihat pentungan Samsudin.
* * *
Satu siang terjadi kegaduhan di depan pintu kamar mandi, saat itu aku buka kamar kontrakan dan kudapati Slamet si penabuh beduk sedang tertidur betelanjang dada di lantai dengan posisi tubuh terlentang seperti seorang yang terdampar di pantai, air kencing serasa sudah berada di pucuk helm burungku, aku bergegas ke kamar mandi. Aku tersentak seperti melihat iblis dan darahku mendidih seketika dan mengubahku menjadi iblis pula, di ruang belakang (ruang di depan kamar mandi) kulihat Samsudin dengan tubuh bugilnya sedang jongkok sementara muka menempel di pintu kamar mandi sedang mengintip ke dalam dan tangan yang sedang mengocok buah zakarnya. Tanpa basa basi lagi aku tendang kuat-kuat pantat busuknya, Brak!
“Anjng, babi bangsat pukimak!” teriakku.
Pintu alumunium itu penyok tertimpa tubuh Sam. Saeful keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk menutup pinggang.
“Pantas rejeki kita seret di sini. Kalau mau cekek burungmu jangan di sini, di luar, di pojok tempat sampah!”
Sam langsung menubruk tubuhku, aku tertindih oleh tubuhnya yang telanjang. Dengan sekuat tenaga aku berontak namun tubuhnya terlalu kuat hingga Slamet dan Saeful memisah kami.
10 menit kami saling berdiam diri di kamar kontrakan.

Tiga bulan berlalu tanpa perubahan kecuali teman-teman pemusik kami yang sudah bertambah namun belum ada satupun yang dapat memberi tempat untuk kami bermain musik, sedangkan amunisi di dompet hanya cukup untuk hidup kira-kira satu minggu lagi. Iman semakin goyah, buku-buku tidak lagi memberi pengaruh sebesar dulu dan jari-jariku semakin lemas ketika berlatih gitar. Aku menjadi seperti seorang pesakitan yang menunggu eksekusi mati seminggu lagi.

Hari itu pun datang. Kami sudah tidak memiliki uang sepeserpun di kantong. Namun untunglah masih ada air di galon dan sisa gula serta satu bungkus teh celup. Air teh manis hangat itu sedikit mengganjal perih di perut, satu gelas rame-rame, kami langsung terkapar dan berharap untuk tertidur serta dibangunkan oleh dering HP yang menawarkan kami main musik di satu tempat.
Tiba-tiba dering HP terdengar, kami semua serentak bangun, Slamet langsung meraih HP di sebelahnya dan memencet tombol.
“Halo, ya, dimana?”
Kami menatap Slamet dengan diam.
Tiba-tiba Slamet langsung berdiri, berjingkrak dan tertawa seperti anak kecil yang baru saja memenangkan pertandingan tinju.
“Kita selamat! Kita selamat! Aku disuruh main malam ini.” kata Slamet.
Kami langsung ikut berjingkrak dan tertawa. Memang begitulah cara kerja Tuhan, suka menguji ketabahan calon orang sukses dan terkenal.

Pukul tujuh malam kami semua mengantar Slamet sampai ke depan jalan raya, seorang dengan sepeda motor sudah menunggunya. Kami melambaikan tangan ketika motor itu mulai melaju.
Tengah malam Slamet pulang, membawa makanan banyak dari kafe, katanya jatah makan yang berlebih sengaja ia bungkus untuk kami. Slamet juga membawa dua bungkus rokok dan gula serta kopi. Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya.

Satu bulan kembali berlalu, Slamet hanya bermain sekali karena saat itu ia hanya membantu grup yang kebetulan pemain drumnya sedang sakit. Kami kembali tumbang, dan kuharap tuhan tidak berlama-lama dengan candanya ini.
Satu bulan lewat dua minggu, kami benar-benar tumbang. Kami sudah mulai berjarak. Slamet semakin pendiam, dan kerjanya hanya berbaring-baring memejamkan mata, Samsudin semakin jarang pulang ke kamar kontrakan dengan alasan tidak jelas dan Saeful, suatu hari Saeful berbicara dengan seseorang.
“Apa yang bisa dijual di situ? Ya, jual dan kirim uangnya kemari, aku SMS alamatnya.”
Saeful memencet tombol-tombol HP, setelah itu mengembalikan HP itu ke tetangga sebelah.
Empat hari kemudian Evul cavalera menyerah dan pulang kampung setelah mendapat kriman uang hasil penjualan tv istrinya di kampung. Tinggal aku, Slamet dan Samsudin.

Pernah sekali kudengar Slamet menangis di kamar mandi, aku menahan geli, tapi juga merasa kasihan.
Satu siang Samsudin datang setelah pengembaraannya entah kemana. Aku sedang terkapar dengan perut telanjang, begitu juga Slamet di sampingku. Samsudin duduk di dekat kami bersandar di dinding seperti biasa membuka baju dan celananya hingga bugil. Tiba-tiba terdengar suara sendawa dari mulutnya. Aku tersentak, dan langsung menoleh ke arahnya. Segera saja aku bangkit dan tanpa pikir panjang kupegang lehernya.
“Heh Babi! Bagaimana kau bisa makan sendirian sedangkan kau lihat kami terkapar tanpa daya. Kalau kau ingin cara seperti itu, jangan tinggal disini lagi.”
Samsudin berontak dan melepas cengkraman tanganku di lehernya.
“Bangsat! Apa kau tidak mencium aroma tong sampah di mulutku?” katanya dengan mata membulat.
Aku diam dan berpikir sejenak.
“Jadi?” aku tidak melanjutkan kata-kataku.
“Ya.” jawab Samsudin.”Aku makan makanan sisa dari tong sampah!”
Kemudian ia meraih celana di sampingnya, mengambil puntung rokok yang masih agak panjang dan telah gepeng karena terjepit kantong.
“Dan rokok itu.?” kataku.
“Ya. Jangan tanya lagi dari mana, kamu sudah tahu.” katanya seraya menyalakan rokok dengan korek kayu.
Aku menoleh ke arah Slamet di belakangku, Slamet sedang duduk merapat ke tembok sambil memegangi perutnya.
Satu hari setelah kami diusir dari kontrakan karena menunggak 3 bulan.

Gitar listrikku dan gitar basnya Slamet disita pemilik kontrakan sebagai ganti pembayaran sewa. Akhirnya Slamet pulang kampung dengan biaya tiket hasil penjualan baju-bajunya, dan aku korbankan sebuah jaket untuk menambah ongkos Slamet pulang. Sementara Samsudin pergi entah ke mana. Dan aku sendirian di taman ini. Aku masih bertahan dengan gaya hidup yang terinspirasi oleh Samsudin, mengintip tiap-tiap tong sampah yang kulewati.
Hari sudah senja. Seorang tukang bakso memarkir gerobak dagangannya di ujung taman. Dua hari sudah aku belum makan, hanya terisi oleh air mentah di mushola. Kudatangi penjual bakso itu dan memesan satu mangkok bakso. Aku duduk di sebuah undakan kecil taman.

“Satu lagi Pak.” kataku setelah kuhabiskan satu mangkok dan perut masih juga meminta tambah. Tukang bakso itu memberiku satu mangkok lagi.
Aku duduk sejenak setelah menghabiskan bakso mangkok ke dua.
“Sebentar ya Pak” kataku. Si tukang bakso mengangguk sambil melayani pembeli yang lain. Aku melangkah cepat ke ujung taman satunya lagi, berjalan di balik tumbuh-tumbuhan tinggi pembatas taman dan jalan, berharap tukang bakso itu tidak melihatku. Setelah agak jauh aku langsung berlari meninggalkan taman itu. Malam harinya aku tidur di stasiun kereta.

Keesokan harinya aku berjalan tanpa arah, berkeliling kota, masuk lagi ke stasiun, naik kereta listrik dan mengikutinya kemanapun ia pergi sampai sore tiba.

Malam hari tubuhku serasa seperti kehabisan darah. Lutut sudah tak mampu lagi menopang berat badan, aku duduk bersandar di tembok halaman rumah penduduk, di bawah pohon di pinggir jalan. Agak jauh di seberang jalan sebuah warung bercat hijau yang menjual makanan terlihat. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki kira-kira 35 tahun berjalan masuk ke warung makan tersebut. Aku bangkit dan berjalan ke arah warung makan tersebut. Aku masuk dan sampai di dalam warung makan itu aku duduk di samping laki-laki tadi.
“Apa kabar?” tanyaku pelan pada laki-laki di sampingku.

Obrolan pun berlanjut sampai makanan pesananku datang. Aku mengambil tempat di ujung warung makan, agak jauh dari laki-laki itu. Cepat-cepat kuselesaikan makananku sebelum laki-laki itu menyelesaikannya lebih dahulu. Setelah makanan di atas piring itu habis, aku segera bangkit dan memanggil pelayan warung.
“Mbak, bayarnya sekalian sama temanku itu.” kataku pelan sambil menunjuk laki-laki yang sedang sibuk makan. Setelah itu aku bergegas pergi.

Dua hari kemudian.

Aku terkapar di bawah pohon di sebuah tempat berbentuk segi tiga yang letaknya di tengah pertigaan jalan. Terik matahari membuat darahku seolah menguap. Seorang anak muda seumuranku duduk di sampingku. Melihat ia duduk, dengan terpaksa aku bangkit dan bersandar di batang pohon itu. Pemuda itu menoleh ke arahku, dan menawarkan rokok. Kuambil sebatang. Obrolanpun terjadi. Aku terpaksa menanggapi semua kata-katanya hingga akhirnya sebotol Aqua dibelikannya untukku. Kuambil lagi sebatang rokoknya yang tergeletak di atas tanah di dekat kakiku.
“Kau pemain gitar? Benarkah? Gitaris siapa yang paling kau sukai? Jimmy hendrix, Van Halen, Joe Satriani. Wow keren!”
Tiba-tiba tenaga dan semangatku pulih kembali seperti pertama kali aku datang ke ibu kota, hingga kemudian berbalik aku yang paling banyak bercerita dan ia yang menanggapi.
“Sebaiknya kau datang ke tempatku.” katanya.

Diajaklah aku ke tempat tinggalnya. Sebuah kamar kontrakan yang kurang lebih sama ukurnnya dengan kontrakan yang pernah aku huni dulu. Kami mengobrol lama di ruang depan. Sebuah gitar akustik menggantung di tembok, di samping poster John Lenon bertuliskan dibawahnya ‘Welcome Home JOHN LENNON’. Kopi dan rokok tersedia di hadapanku. Menjelang malam aku diajak makan olehnya.
“Kau gantikan aku mengajar,oke?” katanya setelah kami menyelesaikan makan malam.”Dan kau bisa tinggal disini.”
Begitulah, akhirnya aku mengajar musik di satu sekolah musik. Kebutuhanku selama satu bulan itu ditanggung olehnya.

Satu bulan kemudian aku mendapat gaji pertama. Sebagian aku berikan padanya untuk membayar kontrakan.
“Tidak usah kawan, biar aku yang bayar, santai saja.” katanya.
Aku jadi berpikir, masih ada malaikat di kota besar ini.
Sore harinya aku ke taman, dan di salah satu pojok taman terlihat seorang tukang bakso.
“Pak, ini aku bayar yang dulu pernah aku makan.” kataku setelah berada di dekatnya. Tukang bakso itu terdiam berpikir sejenak kemudian menerima uang yang kusodorkan. Setelah itu aku langsung pergi.
Aku setengah berlari menyeberangi sebuah jalan. Hari sudah sepenuhnya tertutup gelap. Sampai di seberang jalan kuhampiri sebuah warung makan bercat hijau. Sampai di ambang pintu, seorang perempuan mamandangku agak lama.
“Ini dia orangnya, yang dulu makan belum bayar.” teriak perempuan itu. Empat orang laki-laki yang sedang menikmati makanannya langsung menoleh ke arahku.
“Tidak tidak.” kataku sambil membuka telapak tangan di depan dada.”Justru aku ke sini bermaksud untuk membayarnya.”

Perempuan itu meraih uang yang kutaruh di atas etalase kaca tempat makanan. Setelah itu aku bergegas meninggalkan tempat itu sambil tersenyum. Aku berjalan sepanjang jalan hingga tiba-tiba rintik hujan turun.
Pukul delapan malam aku sampai di kontrakan, sebuah poster menyapaku, Welcome home John Lennon. (Cerpen Miftahrahman)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: