Oleh: hamzah73 | Desember 28, 2009

La Dedu, Pebisnis Yang Berangkat Dari Khayalan Tinggi

Penulis : Hamzah

La Dedu, begitu nama akrab dimata ‘abang-abangnya’. Sebenarnya ia bernama lengkap Dedu Purnomo. Namun, nama La Dedu sulit terbuang dari memory bagi yang mengenalnya. Kenapa? La Dedu dulunya seorang pecundang, sedikit menipu, licik, nakal, suka buat masalah, agak kuno-an, dan berselera tinggi. Lebih dari itu, La Dedu seorang penghayal kelas kakap. Padahal sebenarnya, ia hanya anak seorang petani miskin, bahkan sangat miskin di Parauna Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara sana. Namun kini, keadaan itu terbalik 180 derajat. Kini ia menjadi pebisnis yang terbilang berhasil di Kota Kendari.

Sebelum membahas siapa Dedu Purnomo kekinian, mungkin ada baiknya kita flashback ke masa lalu, untuk bisa memetik hikmah dari perjalanan hidup seseorang.

Ya! Dedu Purnomo, namanya kejawa-jawaan, padahal sebenarnya ia berdarah Tolaki asli. (Tolaki adalah salah satu suku terbesar di jazirah Sulawesi Tenggara). Dia mengaku sendiri kalau nama sebenarnya hanyalah DEDU saja. Gak pake embel-embel. Tapi karena terlalu pasaran, dan ia tidak ingin disebut kampungan, maka ia menambah nama belakangnya dengan kata PURNOMO….maka kemudian ia berubah dan dikenal dengan nama DEDU PURNOMO. ”Supaya lebih keren dan terkesan kaya,” khayalnya saat itu

Sebenarnya, nama ini ia pakai ketika masuk pramuka, khususnya saat ia berkiprah di Kwartir Daerah Sulawesi Tenggara. Kok bisa? Ya bisalah! Sebab siapapun bisa masuk anggota Pramuka. Meski berasal dari keluarga miskin, namun Dedu masih bisa melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi, bahkan menyelesaikan pendidikan S1 di Unhalu Kendari dengan gelar Sarjana Pendidikan.

Menjadi mahasiswa baginya hanya secara kebetulan. Saat masih berstatus ’La Dedu’, ia banyak mendapat dorongan. Bahkan saat SMA ia nyaris putus sekolah, belum lagi ia masuk di sekolah swasta. Bahkan Kak Abdul Rasyid (kini ia di Jakarta) kerap mendorongnya untuk menamatkan pendidikannya. ”kamu kok sekolah di SMA Battrey, kamu harus bisa yang lebih baik,” kata Kak Rasyid yang menyebut SMA Battrey itu sebagai kiasan sekolah yang sama sekali belum dihitung di Kota Kendari. Termasuk, saat tamat SMA, Kak Rasyid banyak mendorongnya untuk masuk perguruan tinggi entah dengan cara apa. Yang penting kuliah.

Entah bagaimana caranya, Dedu akhirnya lulus di Unhalu. Sebenarnya anaknya cerdas, cuman bawel, sok tahu, suka buat orang tertawa, karena hayalan-hayalannya yang tidak masuk akal saat itu. Dedu saat itu hidupnya ’mondar-mandir’ dari rumah keluarga yang satu ke keluarga yang lain. Mungkin banyak yang sebel padanya, tapi ia tidak mau ambil pusing, yang penting bisa kenyang, bisa tidur dan tentunya dapat uang pete-pete (angkot, pen). Hahahaha…

Pondok Kenangan
Mungkin bosan dengan kehidupan mondar-mandir-nya, Dedu pun stamp di Kwarda Sultra. Maklum saat itu, memang banyak anak Pramuka yang ’ngekost’ disana. Ia pun menjadi penghuni disalah satu pondokan tua Kwarda. Sebenarnya pondokan ’warisan’ dari abang-abang pramukanya, mulai dari Kak Rasyid, Kak Arwan, Ruslan Latif, Kak Andi Adha, Kak Samsul Usman, Kak Dahlan, terus Dedu dan kini diwariskan lagi kepada Kak Bona (Arisman Silondae). Saya pun pernah sama-sama hidup disana, disanalah saya mengenal watak seorang Dedu Purnomo.

Pondok itu sangat sederhana, atapnya seng campur daun nipa plus asbes, dindingnya papan lapuk tak pernah di cat, lantainya retak. Dan yang paling lucu, bisanya ruang tamu berada di depan, tapi yang ini justru di ambil alih sebagai dapur. Mungkin penggambaran, kalo penghuninya serba susah. Ukurannya pun sangat sempit, kira-kira 3×4 meter. (ingat ukuran foto 3×4 cm, Heheheheheh…) Lebih lucu lagi, kamarnya dihiasi poster-poster artis dengan latar koran, jadi mau tidur tak perlu susah-susah, cukup baca koran di dinding sampai mata ngantuk, sambil menghayalkan artis, kapan-kapan bisa dipacari…..

Tapi, pondok itu dianggap angker sebagian cewek-cewek Kendari. Gak tahu apa, tapi banyak yang menyebut, pondok eksekusi, pondok jorok..saya tidak paham apa artinya, yang pasti saya pernah mondok disana bersama Dedu, saat masih menjadi wartawan Kendari Pos, senang juga, sebab bawaannya, happy saja.

Disanalah Dedu ‘tumbuh’. Ia menjadikan pondok itu sebagai tempat belajar, tempat berkhayal dengan hayalan setinggi-tingginya. Bahkan sempat naik pitam karena masing-masing tidak ingin dikalahkan khayalannya. Ceritanya begini, Kak Jainuddin Ladansa (kini sekretaris Kwarda Sultra) pernah tanya Dedu. ”Ded, kalo kamu punya duit banyak, kamu mau beli apa?” tanya Kak Jainuddin.

Dedu menjawab dengan khayalan tinggi. ”Ia kak, kalo saya punya duit banyak, saya mau jadi pebisnis”.
”Bisnis apa” kata Kak Jai lagi.
”Saya mau beli pulau Jawa, terus orang-orangnya saya pindahkan ke Irian Jaya. Nah, Pulau Jawa itu saya buat empang semua, karyawannya orang-orang Kwarda,” kata Dedu dengan serius berkhayal.

Kak Jai menimpali, ”Berarti saya tidak kalah dong Ded”.
”Kok bisa kak, sudah tidak ada yang kalah-mi kekayaanku itu” sergah Dedu
”Saya, kalo punya uang, saya mau beli Pulau Sumatera, terus saya juga buat empang. Sumaterakan lebih besar dari Pulau Jawa. Nah nanti tanah yang saya keruk saya timbun pulau Jawa..jadi empangmu tertimbun semua, hahahah” spontan Kak Jai ngakak.
”Bisanya” muka Dedu memerah karena kalah khayalan. Dedu ’yang kalah’ ngeloyor pergi..

Memang naluri berakal kalau tidak mau disebut licik, dimiliki Dedu. Saya juga pernah merasa ’ditipu’ olehnya. Ceritanya begini. Saya punya duit untuk beli handphone. Maklum saat itu saya sudah bekerja jadi wartawan. Saya langsung konsultasi sama Dedu, lagian rencananya mau bagi-bagi rezeki sama dia. Dedu dan dua rekan lagi, namanya Khalik (kini seorang guru di Bombana) dan Munib Untung (kini aktif di LSM) pun sumringah..wah makan lagi nih..pikir mereka.
”Ded, saya sudah beli handphone, tinggal kartunya” kataku
”Merek apakah? Ow Erickson, hmm, adaji, kartuku saja beli” kata Dedu..
”Berapakah?”
”150 ribu saja, kan punya teman jadi murah dikit, tapi ini tidak ada pulsanya” kata Dedu

Saya yang sumringah karena punya handphone baru, langsung bayar. Pikir-pikir, membantu teman. Terus pergi ke counter untuk isi pulsa. Nah, (ini yang lucu) saat beli pulsa, Rp 100 ribu, saya tanya yang punya counter.
”Itu kartu perdana berapa Mbak?” tanyaku
”30 ribu plus pulsa 10 ribu,” kata Mbak itu…

Saya pun teringat Dedu, yang saya beli kartunya 150 ribu tanpa pulsa lagi. ”kena deh..!!” umpatku sama Dedu.

Saat pulang semuanya kuceritakan padanya. Dedu hanya ngakak, dan sudah dengan nikmatnya menimati sebatang rokok, secangkir kopi panas, beberapa bungkusan indomie terlihat di dapur. Habis belanja besar-besaran. Saya hanya tertawa kecil, dari ulah mereka itu.

Jadi Bisnisman Sukses

Perjalanan hidup Dedu begitu panjang. Ia punya pacar namanya Ningsih (kini almarhum), yang kemudian menjadi istrinya. Ia perempuan berjilbab besar. Cintanya sama Nining, ia jalani dengan penuh cobaan. Saya ingat betul saat melamar, ia ditolak keluarga Nining. Makanya ia ’nekat’ saja menikahinya, tanpa persetujuan orang tua. Saya paham benar, karena Dedu dan sang Istri pernah ke Bau-Bau ’minta petunjuk’ dari saya sebagai sahabatnya.

Singkat cerita, keduanya selesai dan jadi sarjana, menikah, dan hidup dengan pas-pasan. Konon saat menikah, ia minjam duit dari Kak Ruslan Latif.

Ia pindah kost, dari ngetamp di Kwarda menuju sebuah kamar kost di lorong Torada, dekat kost rekan Munib Untung. Saya pun sering mampir dan nginap disana dirumah sederhananya, meski saya paham mereka hidup serba sulit. Apalagi saat itu saya dan istri dua-duanya sudah PNS, punya rumah, tapi di Baubau sana..

Saya dan istri acap kali ’jenguk’ mereka, termasuk saya waktu dipindahkan ke Kolaka. Sekedar bawa apalah yang bisa dinikmati bersama. Tapi beberapa bulan kemudian saya dan Dedu tidak pernah jumpa lagi. Saya hanya dengar saat istrinya mau melahirkan, dan sama sekali tidak punya uang, padahal harus masuk rumah sakit. ”Kasihan betul” pikirku mendengar informasinya…

Satu tahun informasi kami terputus..tiba-tiba saya ke Kendari urusan kantor. Dan bertemu di Hotel Attaya. Kami berpelukan. Saya pun membatin…Dedu tampil dengan motor Thunder hitam, jaket kulit, dan kulit sudah mulai bersih. Pokoknya ada tanda-tanda kesuksesan dari cara penampilannya, meski dengan logat dan karakter yang sama.

”Refa, dirumahmi nginap nah!” ia memanggilku Refa dari nama anak tertuaku.
”Ok bos, yang penting ada air buat mandi” kataku.
”Gampangmi itu, kalau tidak ada air, adaji sungai dibelakang rumah” ujarnya serius,

Sayapun mulai berpikir ada sungai dibelakang rumahnya, Kapan? Yang kupikir dia pasti sudah pindah kost.
”Dimanakah Ded?”
”Di Punggolaka hae..pokoknya marimi kesana, janganmi buang-buang uang di hotel” kini ia lebih serius.

Sesaat kemudian ia membonceng saya menuju sebuah rumah dibilangan Punggolaka sana. Sebuah rumah besar permanen, punya kamar banyak lengkap dengan prabotnya.
”Ei, kenapa begini besar kamu sewakah?” tanyaku memprotes rumah besar yang kukira rumah kos itu.
”Anu Ref, saya butuh yang besar karena buku-buku ini mau disimpan kemana”

Saya mulai terheran-heran sambil membatin. Hebat juga nih teman yang satu ini. Proyek apakah. Dia tampak paham dengan alur pemikiranku. ”Ref, saya ada kerjaan dikit, makanya kuambil rumah ini” katanya.

Saya masih bingung dan berpikir terus. Tiba-tiba Almarhumah Nining istrinya, langsung jawab polos.
“Ini rumah punya kami Kak, dari uang hasil tabung-tabung” katanya.

Saya tidak sadar angkat dua jempol. Saya angkat topi buat seorang Dedu yang ‘penghayal tinggi’. Saya terus bergumam dalam hati, nasib orang siapa bisa tebak. Yang pasti, saya dan Dedu banyak ngobrol tentang kehidupan, tentang rencana esok mencari perkantoran dan menjalankan lobi-lobi untuk mendapatkan proyek-proyek bernilai milyaran rupiah. Benar-benar ia sudah berangkat dari keterpurukan.

Beberapa waktu kemudian, Dedu telah menjelma menjadi DEDU PURNOMO, seorang pebisnis tulen, dengan omset mungkin milyaran rupiah. Namun sayang, kekayaan materi yang dimilikinya, tak diikuti Nining. Dia meninggal beberapa bulan kemudian disaat sang suami baru saja menghadiahi sebuah mobil baru, dan Nining lulus sebagai PNS di Bombana. “Supaya aktif, ia masuk PNS dan alhamdulillah lulus” kata Dedu berkaca-kaca.

Hampir dua tahun lamanya ia menduda ditemani dua putra kesayangannya, Ibong dan Wai, yang besar tanpa seorang ibu. Syukurnya, secara materi kedua putranya tak sesusah orang tuanya dulu. Dedu-pun menikahi partner bisnisnya, seorang perempuan asal Bandung yang bekerja di Bogor. Yang kemudian menjadi ibu yang baik bagi ‘Ibong dan Wai’. Beruntung dia mendapat istri yang lembut, punya prinsip, berpendidikan  dan  yang terpenting menyayangi ’Ibong dan Wai’ sepenuh hati… ”Alhamdulillah” kata Dedu..

Dedu Purnomo, ia pun tidak semiskin dulu, kini dia punya Ruko di dua tempat yang berbeda, punya kantor sendiri, punya dua hotel yang kini masih dibangun di Kota Kendari dan Bombana. Membangunkan rumah kedua orang tuanya. Lebih dari itu, Ded tak lupa diri. Ia malah lebih rajin beribadah, dengan ucapan-ucapan ’standar La Ilah Illallah’ dan kalimat tasbih lainnya.

Ia pun masih bisa membantu rekan-rekannya, membantu Pramuka jika ada kegiatan. Dan, saya juga seolah dimanjakan oleh Dedu..jika saya di kendari, maka ia tak pernah lepas kontrol darinya, mulai dari memakai kendaraan gratis, nginap sesuka hati, dan ngobrol ngakak sepanjang hari jika ada waktu senggang…

Dedu pun masih mengingat dengan masa susahnya dulu. Saat di kendaraan saya bercengkrama dengannya.
”Tidak mimpikah, Ded?”
”Wei…saya sadar ji sebenarnya, kalau saya masih seperti bermimpi”
”Ko ingatji Kartu Handpon-mu dulu? Hahahahahahahah….” ia tergelak lepas mengigatkan masa ’tipu-tipunya’ dulu…

Hahahahahahahahahah…………………………………….”


Responses

  1. two thumbs for you ….hiks… but any something wrong about my new wife.. she’s not from jogjakarta but she’s from bandung city brur…ah sok yu nou hehe… thanks for friendship.. thanks for your support thanks for all… you are is my best friend.. may Allah bless you….

  2. sudah di ralat..ok thanks..

  3. I’ like’s that… Good.. Very verr good… Emang org yg ahil, suka usil dan berbuat ulah… Tapi berawal dari mimpi, semuanya menjadi kenyataan…

  4. Masih Tentang Kwarda dan Bung Dedu Purnomo.

    Saat itu.. sy masih kuliah. Masih semester 6. Sementara, dedu setingkat diatasnya. Hari-hari yang aku lalui, hampa. tidak satu sen pun di kantong. sontak, sy teringat Dedu, seniorku.

    “Aha.. Saya mending ke abang sya aja. mudah-mudahan dapat inspirasi dan dapat rezeki.”

    Akhirnya, bergegaslah saya ke Kwarda dari kampus jalan kaki.

    Setibanya di kwarda, dengan penuh dengan peluh, saya langsung istirahat di bangku depan teras pondok. Sementara saya mendapati Dedu lagi menanam bunga.

    Dedu pun menimpali, “Sep, ko jalan kaki kah, dari kampus?? “Iya. Tak punya uang sesenpun”.

    Dia pun lantas tertawa… ” Pake akal lah.”

    “Hmm, sementara kita (Anda)?” “Sama, tak punya sesen pun”, timpal Dedu”

    “Kalo begitu, apa yg kita perbuat???”

    “Begini saja. kamu ke kampus, cari teman-temanmu. Bilang, mau rental motor. 1 hari. Naanti saya yang talangi besok.”

    “Trus???”

    “Ya ambil dulu lah. Gampang bayarnya.”

    Saya nurut aja. pasti deh, dengan kemauan, pasti ada-ada saja jalan. Meski tak punya uang, segala-galanya akan berubah tanpa kita duga.

    ***

    Satu jam kemudian, dapatlah motor rental. Selanjutnya?? Bagaimana kisah selanutnya, pembaca???

    Dengan tidak punya uang sesen pun, ide gila-gilaan dari kami muncul. Saya dengan Dedu sepakat. Pergi ke Tanggetada, Kolaka, yang jaraknya kurang lebih. 300 KM dari Kendari. Pergi ke Khalik. pergi mencari “kedamaian” di alam Tanggetada.

    ***

    Kira-kira, jam 12 siang, kami pun start dari Kwarda menuju Puwatu. Mampir seenak di rmhnya kakaknya dedu. Mengisi kampung tengah.

    Setelah selesai makan, kami pun melanutkan peralanan. begitu gila-gilaan. Tak punya bekal, bahkan isi tangki bensin hampir habis.

    Tapi, rupanya, Allah SWT masih melindungi kami. Dengan akal, dengan semangat yang menala-nyala, nekat, bahkan terbilang gila-gilaan… akhirnya bensin pun terisi. Nah?? Pembaca pasti bingungn kan??? Hehehhee….

    Kami pun mampir di Rimbu. dan dari Abang Rimbu-lah- kakak angkatnya Dedu, bensinnya, akhirnya kami dapati.

    Saat itu, hari menjelang sore.

    Setelah menyeruput secangkir kopi sejenak, kami pun pamit sama tuan rumah. Dan, melanjutkan perjalanan.

    ***

    Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, kami mau memasuki Kolaka. Tapi, eitttsss… tunggu dulu. Cobaan pun datang.

    Dari kejauhan, kami melihat mobil patroli polisi sedang mengadakam sweeping. Semua mobil dan motor tak luput dari pemeriksaan.

    Tanpa terkecuali. Kami pun diperiksa.

    Sesampainya di tempat sweeping, kami pun dicegat polisi. Kami pun berhenti. Dedu hanya berbisik sama saya, “nyantai aja. jangan gugup. sebab kita bukan bandit”

    Dan serentak, seorang opsir polisi pun mendekat, “Selamat malam, pak. Boleh menukkan identitas? SIM dan sebagainya?”

    “Maaf pak. Saya tidak dapat menjukkan identitas seperti apa yg bapak minta. Saya hanya bawa identitas kartu mahasiswa”.

    “Lantas Anda dari mana?”

    “Kami dari Kendari, pak. Mau meliput di Kolaka. Dan berumpa Bang Takwa Rahman, koresponden di Kolaka”.

    “Oh ya??” dan sang opsir itu pun melapor sama atasanya. Saya pun dipanggil.

    “Anda benar seorang jurnalis?” “Iya pak. (memang, saat itu saya masih tergabung dalam Kendari Ekspres crew)”.

    Sambil memegang identitas saya,sang opsir itu pun bertanya,”coba sebut tanggal lahir anda, dan nomor induk mahasiswa Anda. “Alhamdulilah. Saya pun menjawab dengan lancar, tanpa gugup. Dan, akhirnya kami diijinkan melanutkan perjalanan.
    “Selamat bertugas pak, hati-hati saja di jalan, sapa sang opsir tersebut.

    “Terima kasih pak.

    ***

    Alhamdulilah. Akhirnya, kami pun lega. kami tidak ditahan bapak-bapak polisi itu. Padahal, tidak punya SIM lagi. Malahan, seniorku, abang Dedu bawa badik, pula. Berjaga-jaga saja. Padahal, sebagian besar motor dan mobil banyak yang ditahan. sementara kami, tetap dibiarkan melanutkan peralanan.

    Itulah kuasa Allah… Dengan niat ang baik, meski gila-gilaan, kami pun tidak mendapati kendala yang berarti.

    Cobaan pertama, akhirnya dilewati.

    ***

    Bagaimana kisah selanutnya???

    Sesampainya di Pomalaa, lampu depan motor yang kami rental mati mendadak. Dimana, saat itu, kami di tengah hutan. Mana sepi. Gelap Gulita. Tapi, lagi-lagi, alhamdulilah. 30 menit kemudian, lampu depan motor rental kami akhirnya menyala lagi.

    Begitulah…. Sekitar pukul 22.00, akhirnya kami sampai di alam Tanggetada. Penuh kesahajaan. Penuh ketenangan. Hati saya, riang karena sudah sampai dengan selamat. Dedu saya lihati, tersenyum-senyum.

    Akhirnya kami pun bertemu dengan Khalik. Sama-sama bersyukur, petualangan yang gila-gilaan sukses dengan gilang gemilang. Tanpa modal, tanpa uamg sesen pun, hanya dengan modal keberanian, dan kenekatan. Akhirnya terwujud.

    Itulah Dedu, itulah saya. Itulah memori, yang tak pernah terlupakan. Di tahun 2002 silam lalu.

    Wassalam.

  5. Memang abangq yg satu itu adalah sosok yg kontroversial dlm gerak dan pikir namun penuh sahaj dan dlm kesahajaan itulah ia mjd seorang yg sukses. K Dedu merupakan salah satu pengusaha yg sukses, smoga kesuksesannya hingga hari esok.

  6. […] hari di pekan ini ditemani rekan Dedu Purnomo, seorang pebisnis muda high class Kendari (kisahnya baca disini), Aku menikmati Jakarta dalam berbagai dimensi kehidupan. Dari kehidupan malam Starbuck Café, Hard […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: