Oleh: hamzah73 | Desember 18, 2009

Bau-Bau, Putri Cantik di Jalur Pelayaran Dunia

Perahu-perahu kayu berjejer di selat yang memisahkan Pulau Buton dan Muna. Tiang layar terikat sulur- sulur tali berdiri menunjuk langit. Perahu tradisional itu merupakan salah satu jejak peradaban bahari Kesultanan Buton. Perahu itu pula yang mengantar para pelaut Buton menjelajah Nusantara sejak abad ke-17.

Pelayaran menjadi ruh Kesultanan Buton karena posisi geografisnya berada di jalur perdagangan rempah-rempah. Kapal-kapal dagang milik VOC singgah di Bau-Bau dalam perjalanan dari negeri rempah- rempah Maluku ke Jawa dan sebaliknya. Posisi Buton yang strategis itu diperebutkan oleh dua kerajaan besar, Ternate dan Makassar, seperti ditulis Pim Schoorl dalam buku Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton (2003).

Schoorl yang menelusuri dokumen VOC menyebutkan, Buton bukan wilayah perdagangan yang kaya. Potensi yang dilirik VOC adalah jumlah penduduk yang besar untuk tenaga kerja dan keterampilan membangun kapal layar. Pelayaran dan perniagaan adalah sumber utama nafkah orang Buton. Perahu-perahu mereka berlayar hingga Singapura dan kawasan timur Nusantara sebagai pengangkut barang.

Jejak peradaban bahari ini dikuatkan oleh catatan Militaire Memorie (1919) yang menaksir jumlah perahu di Kesultanan Buton yang ada pada waktu itu sekitar 300 unit berbobot 60-1.000 pikul, setara dengan 3,7 ton hingga 61,7 ton. Jumlah itu tidak termasuk perahu penangkap ikan dan kolekole (sampan).

Kultur perniagaan itu diperkuat oleh aturan bagi syahbandar yang ditetapkan Sultan La Badaru (1799-1822). Syahbandar bertugas menyambut kapal dagang yang datang sebagai sahabat, kemudian menanyakan berita di sepanjang jalur pelayaran. Berita ini untuk mengetahui potensi ancaman musuh atau perompak bagi Buton. Syahbandar juga menjelaskan aturan perniagaan di Buton, termasuk bea pelabuhan dan pajak barang.
Buton disinggahi kapal-kapal dagang karena posisinya berada di gerbang kepulauan rempah- rempah. Kapal-kapal dari Selat Malaka melalui Buton sebelum membeli cengkih dan pala di Ternate. Dalam buku The Voyage of Sir Henry Middleton to The Moluccas 1604-1606 (1943) disebutkan, pelayaran melalui Buton lebih singkat dan relatif aman dari gangguan cuaca. Dari Buton, pelayaran bisa dilanjutkan ke Banda, Ambon, Ternate, dan Tidore, pulau-pulau penghasil rempah-rempah.

Posisi strategis Buton di jalur perdagangan kawasan timur Indonesia masih jelas hingga sekarang. Jumlah kunjungan kapal di Pelabuhan Murhum, Kota Bau-Bau, tahun 2007 mencapai 4.639 kali. Penumpang yang turun 233.074 orang dan yang naik 322.450 orang. Barang yang dibongkar 179.599 ton dan yang dimuat 286.447 ton.
Frekuensi kedatangan kapal tinggi karena semua kapal penumpang PT Pelni yang melayani rute Kawasan Timur Indonesia singgah di Bau-Bau. Adapun pelabuhan Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, hanya disinggahi satu kapal penumpang PT Pelni, yaitu KM Tilongkabila.

Data kunjungan kapal itu belum termasuk pelayaran rakyat di Pelabuhan Jembatan Batu yang dikunjungi 3.200 kapal rakyat. Kapal-kapal dagang itu rata-rata melayari rute ke Surabaya, Makassar, dan wilayah Nusa Tenggara. Kapal penyeberangan Buton-Muna dan Buton-Makassar-Balikpapan tercatat 2.122 kali singgah. Di pelabuhan milik Pertamina, 70 kali kapal singgah dan membongkar 55.564 ton muatan.

MZ Amirul Tamim, Wali Kota Bau-Bau, menjelaskan, Pertamina juga sedang membangun terminal transit bahan bakar minyak di Desa Sulaa, Kecamatan Betoambari, Bau-Bau. Terminal transit berkapasitas 35.000 kiloliter itu melayani pasokan BBM wilayah Sulawesi Tenggara. ”Kami memiliki potensi yang sangat strategis sebagai penghubung wilayah barat dan timur. Jika Pelabuhan Murhum dikembangkan, disparitas harga antara wilayah barat dan timur bisa ditekan,” ujar Amirul.

Potensi sebagai pelabuhan transit itu memang belum dikelola secara maksimal. Panjang dermaga Pelabuhan Murhum hanya 180 meter. Jika ada kapal yang sandar, kapal-kapal yang lain harus antre. Karena dermaga penumpang dan barang masih menjadi satu, kapal-kapal penumpang lebih diprioritaskan dibandingkan kapal kargo. ”Muatan kargo yang seharusnya bisa dibongkar dalam sehari baru bisa selesai 3-4 hari,” ujar Yusuf, petugas gudang peti kemas.

Kondisi ini menyebabkan frekuensi kedatangan kapal kargo hanya tiga kali dalam sebulan. ”Kami juga selalu telat mengirim barang ke luar Bau-Bau. Padahal, banyak barang yang harus dimuat, seperti rumput laut dan beras,” ujar Yusuf. Bagi masyarakat, kondisi ini menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi. Pembengkakan biaya operasional kapal dan gudang dibebankan dalam harga barang. (Ang)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: