Oleh: hamzah73 | April 16, 2009

Bangsa yang Besar, Bukan Bangsa Pembohong

Penulis : Hamzah

Indonesia sukses menggelar Pemilu legislatif dengan kesan aman. Hanya kesan., karena Pemilu kita banyak yang menilai kalau Pemilu dalam kondisi ‘carut-marut’ bahkan beberapa tokoh negeri ini memberi angka ‘merah’. Katanya sepanjang sejarah bangsa ini, Pemilu 2009 inilah yang paling terburuk. Benarkah? Tentu banyak alasan yang diungkap, salah satunya Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang amburadul, dan juga banyaknya wajib pilih yang tidak bisa menggunakan haknya, termasuk yang sengaja memilih Golput.

Apapun ceritanya, realitas politik telah berjalan di negeri ini. Rakyat telah menghukum, rakyat telah mencoba-coba dan rakyat pulalah yang memberi penghargaan. Entah bagaimana analisanya, tetapi penilaian saya lebih subjektif memberi pendapat seperti ini; Rakyat menghukum, karena rakyat sepertinya ingin ‘mereformasi’ wakil rakyat yang selama ini dinilainya lemah dalam melakukan tugas-tugasnya, apalagi mendekati konsitituennya. Semuanya dilibas.

Rakyat juga memberi suara ‘coba-coba’ kepada calon wakil rakyat yang selama ini hanya ‘besar nama’. Katakanlah para selebriti dan artis negeri ini. Mereka ingin melihat, apakah nama besar itu sebanding dengan apa yang bisa diperbuat kelak setelah duduk di legislatif. Dan, yang terakhir rakyat memberi penghargaan. Artinya, sebuah partai ‘papan tengah’ sekelas Partai Demokrat kini menyodok sebagai pemenang Pemilu, tentu ini karena besarnya suara rakyat kepada partai ini. Entah  apakah penghargaan ini diberikan kepada Caleg Demokrat atau kepada sosok SBY sebagai pembina partai ini? Yang pasti realitasnya, Caleg Demokrat-lah yang akan menguasai parlemen, dan tentunya SBY akan melenggang ‘kangkung’ ke bursa Capres, seraya menunggu pesaingnya.

Lalu apa hubungannya dengan Bangsa Besar dan Bangsa Pembohong? ‘Dulu’ pada zaman Orde Baru, Indonesia sering di idiomkan sebagai bangsa yang besar. Bahkan beberapa slogan kita menyebutkan, jika bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Saat itu, memang generasi muda ‘diisi’ dengan semangat kebangsaan. Para tokoh dan pahlawan bangsa di apresiasikan sebagai bunga kesuma bangsa. Kini, harus kita akui semuanya menjadi terkikis, dan runtuh secara perlahan…

Bangsa ini lebih banyak diisi dengan  informasi bencana alam, banjir dan tanpa ada kepedulian kita untuk membantu para sesama. Tidak ada lagi gerakana nasional yang peduli dengan anak-anak dan orang-orang jompo yang terlibas bencana. Bangsa ini seolah berlindung dari kalimat ‘ikut berduka cita’ tanpa ada bantuan real dilapangan, yang disebut-sebut hanya PMI, Tim Sar, Pramuka dan lain-lain.

Yang paling hot, informasi politik, ini yang paling banyak menjejali otak kiri generasi bangsa ini. Maaf, bukan menyamakan politik dengan kebohongan, tetapi dagelan politik seolah menawarkan kebohongan itu dengan berjubah ‘intrik politik’. Lihat saja, sebelum Pemilu, agregasi mengarah ke koalisi lahir dimana-mana. Ada pertemuan tokoh nasional, ada segitiga emas, (Poros tengah mana?), ada yang malah diam-diam. Rakyat kemudian percaya, ini bentuk kemajuan seiring ‘mencairnya’ hubungan para tokoh, (kecuali SBY-Mega).

Pasca Pemilu ceritanya lain lagi, pergeseran politik nampak dimana-mana. Ada yang prihatin dengan kondisi Pemilu yang carut marut, ada yang melakukan pertemuan para tokoh, ada yang kembali bertemu. Sepertinya bangsa ini dipertontonkan dengan sebuah adegan yang berbau kebohongan. Yang kemudian akan terwaris kepada genarasi berikutnya. Kasian bangsa ini. Lalu pertanyaannya, apakah kita Bangsa Yang besar? atau    Bangsa Pembohong. Wallahhu Alam Bissawab. (**)


Responses

  1. bangsa ini memang bangsa yang besar ;
    – besar penduduk miskinnya
    – besar utang luarnegrinya
    – besar janji politikusnya….dan akhirnya…
    – besar bohongnya.
    itulah bagian dari ‘kebesaran’ yg dimiliki oleh bangsa ini. rakyat seakan sudah sadar dengan apa yg terjadi, beberapa kali pemilu pasca reformasi digelar tapi belum mampu mengangkat kesejahteraannya, sehingga yang terjadi kemudian sikap apatis terhadap pemilu itu sendiri. hasilnya? tidak bisa disangkal bahwa golputlah sebagai pemenang pemilu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: