Oleh: hamzah73 | Maret 31, 2009

Andai Aku Bisa “Hearing” Pak Presiden

Penulis : Hamzah

Akhir-akhir ini kegelisahanku kepada Bangsa yang besar ini makin tidak karuan. Bangsaku yang besar ini seolah terjerembab, terjerumus, bahkan….ah…entalah sulit rasanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku…yang pasti tak ada panutan lagi untuk mengungkapkan kegelisahan itu. Aku hanya melihat sisi keterpurukan bangsa ini, paling tidak, aku dan rakyat Indonesia lainnya seolah merasakan ketidaknyamanan, ketidakpastian, dan hanya ‘mandi’ dengan segala keberhasilan yang semu…Bangsaku telah larut dalam liberalisasi, sebuah paham kebangsaan yang bukan untuk bangsa yang majemuk ini.

Seandainya mimpi bertemu dengan pak Presiden SBY, dan diberikan kewenangan untuk menghearing beliau, maka sejumlah pertanyaan akan kulontarkan pada beliau, diantaranya;
– Kenapa bangsa ini seolah kehilangan ideologi Pancasila?
– Kenapa bangsa ini begitu banyak bencana?
– Kenapa bangsa ini kehilangan semangat nasionalism?
– Kenapa bangsa ini begitu gampang ‘berkelahi’ dengan bangsa sendiri?
– Kenapa kemiskinan muncul dimana-mana?
– Kenapa bangsa ini begitu mudah menghukum para pemimpinnya?
– Kenapa bangsa ini begitu alergi dengan ‘keberhasilan’ Orde Baru?
– Kenapa bangsa ini sepertinya memiliki TNI yang lemah?
– Kenapa bangsa ini begitu mudahnya melahirkan ‘militer-militer’ baru yang justru terlahir dari kalangan sipil?
– Kenapa pemimpin dengan pemimpin lainnya begitu mudah berbeda pendapat?
– Kenapa prestasi bangsa ini di publik dunia begitu merosot.

Sejumlah pertanyaan itu hanyalah sedikit dari sekian banyak yang ada di kepala ini. Apakah bangsa ini malas untuk beribadah? Apakah bangsa ini sudah tidak lagi memiliki pemimpin? Apakah bangsa ini harus terpuruk seburuk-buruknya? Aku takut untuk bertanya lebih jauh, sebab kemerdekaannku dibatasi dengan aktifitasku selama ini. PNS dengan pangkat rendah.

Beberapa hari lagi Pemilu 2009 menjelang. Aku tak pernah mendegar bagaimana semanagat kebangsaan terurai dengan tembang-tembang Pemilu seperti Orde baru dulu. Maaf, dulu memang kurasakan begitu sulitnya untuk bersuara, tapi aku masih merasakan kenyamanan, merasa terlindungi dan jauh dari semangat saling memaki…

Pak Presiden, kembalikanlah negara ini ke pangkal jalan. Kata orang bijak, kalau sementara berjalan kita tersesat, maka kembalilah ke pangkal jalan. Aku pun ingin mengingatkan Pak Presiden, jika anekdot bangsa ini sudah begitu rendahnya..katanya…”Kalau Orang Jepang, banyak kerja kurang bicara”, kalau Orang Filifina, Banyak bicara kurang kerja”…

Lalu bangaimana dengan Indonesia? Katanya “Orang Indonesia lain yang dibicarakan, lain yang dikerajakan” ahh kasihan benar bangsaku…pertanyaannya, haruskah kita larut dengan hal seperti itu??

Maka tidak ada salahnya kalau aku ingin berkata pada Pak Presiden…”Pak masih ada waktu untuk merubah bangsa ini, kembalilah ke pangkal jalan, jangan sampai terlalu jauh tersesat, itu juga kalau Pak Presiden mau mendengar kami”..
Tetapi jika Pak Presiden tak mau mendengar kami, entalah…. apakah Aku harus mencari Presiden lain….??” (**)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: