Oleh: hamzah73 | Februari 22, 2009

SBY-JK Retak? Dimana Persatuan itu?

Penulis : Hamzah

sby-jk2Duet kepemimpinan nasional Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Wapres Jusuf Kalla yang berlangsung harmonis selama 4 tahun lamanya sepertinya harus retak dipenghujung jalan. Entah apa alasan detailnya, namun media memberitakan jika Partai Golkar yang dipimpin Kalla merasa ‘terluka’ dengan pernyataan Ketua DPP partai Demokrat Ahmad Mubarok yang selama ini dikenal sebagai ‘Partainya SBY’.

Golkar-pun yang selama ini lebih banyak ‘mengalah’ sepertinya ‘naik pitam’ dengan mengusung Yusuf Kalla sebagai calon Presiden pemilu mendatang. Sebuah langkah yang telah menjadi rahasia umum jika Kalla selama tidak menonjolkan diri, karena menghormati kepemimpinan SBY sebagai Presiden. Ataukah ada pihak lain yang ‘mensetting’ agar SBY dan Kalla pecah? Jangan mengkambing hitamkan.

Namun yang pasti keretakan kedua tokoh nasional ini telah menggambarkan jika republik ini benar-benar telah menjadi milik para politisi yang anti kemapanan, lebih pada kepentingan kelompok atau golongan atau tidak mengutamakan kepentingan bangsa. Lalu pertanyaannya, sampai kapankah negeri ini harus berbeda pendapat?

Lebih menarik lagi, ‘keretakan’ ini mendapat respon politisi lainnya. Contohnya, seorang politisi PDIP secara terbuka di media massa menyambut baik perpisahan ini. Boleh jadi, keretakan ini merupakan sinyal kemenangan si ‘Moncong putih’. Bahkan ketua umum Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) Ryas Rasyid yang basis suaranya di daerah-daerah dengan lantang mendukung Yusuf Kalla maju sebagai Capres. Suka atau tidak suka, kubu SBY telah melukai sebagian pemilih Kalla yang ada di daerah. Bahkan, seruan Ryas Rasyid menggambarkan jika secara emosional masyarakat ‘timur’ yang dipelopori Sulawesi Selatan sepertinya tersinggung berat. Maklum, diamnya Kalla yang berarti menghormati SBY sepertinya diartikan kubu SBY sebagai turunya kepopuleran Kalla dan Partai Golkarnya..entalah..

Untung saja, SBY dan Kalla menyakinkan publik Indonesia bahwa majunya Kalla sebagai Capres usungan Golkar tidak mendisharmonisasi hubungan mereka sebagai pemimpin negara. Bahkan SBY mengatakan menghormati putusan prati Golkar, dan mengatakan hubungan keduanya tetap harmonis. Namun, bagaimanapun cerita ‘lipstik’ dari keduanya sepertinya hanya penggambaran jika negara ini tetap aman, dan program-programnya tetap berjalan. Inilah relaitas politik yang hanya menjadi milik politisi, tapi bukan milik masyarakat kecil, padahal banyak yang berharap jika pasangan SBY-Kalla tetap bertahan hingga maju di periode ke dua.

Pasangan SBY-Yusril
Penulis tidak berani memprediksi, apakah perpisahan SBY-Kalla karena ada keinginan agar SBY memilih pasangan lain?, namun desas-desus yang berkembang jika, SBY sepertinya ingin menepati janji kepada politisi kawakan Yusril Ihza Mahendra. Konon, dukungan Partai Bulan Bintang (PBB) pada kali pertama SBY-JK berduet, maka setelah itu SBY-JK terpilih, maka untuk periode kedua, Kalla harus mengalah, dan mendorong SBY berpasangan dengan Yusril. Benarkah? Wallahu alam bissawab.

Lagi-lagi penulis tidak berani memprediksi, tapi bayangan akan lahirnya pasangan SBY-Yusril sepertinya di pelupuk mata. Apalagi baru-baru ini PBB adalah partai yang pertama kali setelah demokrat yang menyatakan dukungannya kepada SBY untuk diusung kembali menjadi calon Presiden. Kalau memang itu terjadi, boleh jadi ini bukan settingan Ahmad Mubaroq, tapi lebih pada keinginan SBY untuk berpisah dengan Kalla.

Lagi-lagi kalau itu benar-benar terjadi, maka kita tidak tahu apa yang lagi yang terjadi pada kubu Kalla. Apakah ‘kesepuhan’ Kalla bisa menekan emosional politiknya yang dikenal lebih transparan dari SBY? Ataukah popularitas SBY bakal menurun dan JK akan meningggi..kita tunggu hasil survey.

Yang pasti ini pelajaran politik yang sangat penting bagi rakyat kecil. Bahwa pemimpin kita mempertontonkan sebuah adegan yang tak layak di contoh. Kalau seperti itu skenarionanya, maka mungkin rakyat harus berpikir untuk memilih pemimpin yang benar-benar punya keberpihakan pada rakyat, bukan sekedar sandiwara pengobat telinga. Nah, Anda mau Golput? Itu hak Anda, tapi saya sarankan untuk tetap menggunakan hak pilihnya demi perbaikan bangsa ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: