Oleh: hamzah73 | Februari 19, 2009

Martabat Bangsa Di Mata Hillary Clinton

Penulis : Hamzah
who-is-hillary-clinton1Kehadiran Menteri Luar Negeri USA Hillary Clinton ke Indonesia Rabu kemarin (18/2) seolah menjadi cermin jika Indonesia mulai ‘dihitung’ di dunia internasional. Begitulah opini kita yang berkembang saat ini. Ada beberapa hitungan kenapa Amerika begitu melirik Indonesia? Mungkin Indonesia dikenal sebagai ‘negara dengan umat muslim terbesar di dunia’, yang kedepan diharapkan menjadi mediator bagi perdamaian khususnya negara-negara Muslim yang berkonflik? Atau mungkin, cadangan tambang dunia yang masih besar masih ada di Indonesia, yang kemudian menjadi ‘bergaining’ Amerika dalam memecahkan krisis ekonominya? Itu asumsi subjektif kita.

Tak disangkal jika telah menjadi kebanggan, jika kunjungan pemerintahan Amerika yang dipimpin Barrack Obama melalui Hillary berkunjung ke Indonesia. Kebanggan itu timbul, karena Indonesia adalah negara kedua setelah Jepang yang dikunjungi secara resmi pemerintahan Obama. Artinya, martabat bangsa Indonesia ikut terangkat dimata Obama via Menlu-nya, Hillary Clinton. Apalagi di mata Amerika, Indonesia memiliki predikat ‘baik; disektor demokratisasi, HAM dan penanggulangan teroris. Dan, semua itu diungkap Hillary secara gamblang di depan wartawan dalam dan luar negeri saat jumpa pers di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia.

Demokratisasi, HAM dan penanggulangan teroris. Tiga hal yang terskresing sebagai sesuatu yang baik di Indonesia di mata Amerika. Apakah memang benar seperti itu? wallahu alam bissawab. Tapi yang pasti, demokrasi yang terbangun di Indonesia dan dibanggakan Amerika itu sepertinya salah jalan. Demokrasi negeri ini ‘beda tipis’ dengan anarkisme. Hampir disemua momen atas nama demokrasi justru menjadi brutal dan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tidak beradab. Bukti telah banyak berbicara seperti itu. Azis Angkat, Ketua DPRD Sumut meninggal dunia karena anarkisme para pendemo. Dimana-mana muncul tawuran antar kampung. Mahasiswa berdemo ujung-ujungnya dengan lemparan batu. Kenapa itu terjadi?

Banyak yang bilang, demo anarkis terjadi karena aparat keamanan kurang berani bertindak, alasannya hanya satu, takut disebut melakukan pelanggaran HAM. Apalagi di ekspos media massa secara besar-besaran. Nah, kalau itu alasannya, tak heran jika muncul aksi-aksi anarkis, sektarian, hingga terorisme.

Kalau memang itu yang harus dibanggakan, apalagi dijadikan pijakan untuk mengangkat martabat bangsa dimata Amerika, sungguh sebuah kemunduran. Maka wajar saja jika, ada saja anak bangsa berbicara, bagaimana enaknya hidup di zaman Presiden Soeharto. Aman, tenteram dan gemah ripa loh jinawi. Meski kemudian, mata Amerika memandang jika Indonesia saat itu tidak demokrat dan rawan pelanggaran HAM. Menariknya, kita baru sadar, dan berbicara penuh nurani jika ada korban jiwa sebagai akibat dari kebebasan yang tiada terkendali itu. Itukah yang kita cari?

Saatnya kita semua menyadari, jika bangsa ini telah terjebak dengan domokrasi yang tiada bentuk, terjebak dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Bahkan dengan gampangnya bangsa ini saling memfitnah. Bangsa ini boleh berdemokrasi, tapi bukan dengan ‘cermin retak’ demokrasi Amerika. Indonesia boleh bebas, tapi bukan ‘sebebas’ binatang yang tak punya akal. Indonesia boleh menjunjung tinggi HAM, tapi tidak bercermin pada HAM yang menghilangkan hubungan darah antara anak dan orang tuanya. Olehnya, mari kita kembali kepada ideologi bangsa ini, Ideologi Pancasila, bukan idelogi bangsa lain yang tak cocok dengan iklim Indonesia.

Sunguh nikmatnya berbangsa Indonesia, jika rakyatnya taat beribadah, saling menghargai sesama manusia, menghargai perbedaan, bersatu dalam keberagaman, berdemokrasi dalam musyarwarah, Pemimpinnya benar-benar jadi panutan, Tentara dan Polisinya yang kuat, dan rakyatnya sejahtera, yang menciptakan keadilan di semesta Indonesia. Pernakah kita merasakan itu? kalau pernah, kenapa kita tidak melanjutnkannya. Kalau belum, saatnya kita memulai.

Itu semua bukan angan, hanya perjalanan panjang yang terbengkalai. Karena martabat bangsa ini hanya dihitung dari kacamata orang lain, bukan kacamata anak bangsa sendiri. Ataukah kita masih ingin martabat bangsa Indonesia ini dinilai dari kacamata Hillary Clinton??


Responses

  1. mudaan hillary nanti datang lagi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: