Oleh: hamzah73 | Januari 26, 2009

Ah, Bodoh amat dengan Politik!

Penulis : Hamzah
Saya sebenarnya tidak alergi dengan perpolitikan negeri ini, juga bukan orang yang penganjur Golput pada Pemilu mendatang layaknya ajakan Gus Dur, namun cerita panjang dan hampir tiap hari media massa membahas soal politik, rasanya jenuh juga dengan keadaan yang ada. Apalagi dimana-mana, terpampang spanduk, baleho tak kenal pohon, tak kenal tiang listrik, tak kenal taman kota semua dijejali dengan embel-embel berbau politik. Rasanya bukan manusia saja yang sindrom dengan keadaan ini. Alam pun seolah bosan menyaksikan pemandangan itu. Saking bosannya, mungkin mereka ingin berkata, “ah, bodoh amat dengan Politik”

Apakah ini tanda-tanda bila Indonesia benar-benar sudah memasuki tahap demokratisasi yang mapan? Ataukah manusia Indonesia semakin tertinggal dengan demokrasi yang dikembangkannya? Yang pasti dimana-mana Indonesia saat ini menggaungkan dan mengembangkan sayapnya di politik, dari daerah hingga ke pusat. Menariknya, hampir semua orang yang terlibat di dalamnya dilingkupi dengan trik dan intrik, kalau tidak ingin disebut sebagai janji bohong. Sayapun sepertinya ingin berkata, “ah, bodoh amat dengan politik” atau Anda juga ingin berkata demikian??

Saya dan mungkin sebagian orang di Indonesia ini tentu ingin sesuatu yang terbaik dengan politik di negeri ini. Itu pasti. Artinya politik bukan ajang untuk saling menjatuhkan, bukan ajang untuk mengotori alam, bukan ajang untuk pamer dengan kata dan janji manis. Tapi politik adalah wahana untuk memperbaiki bangsa. Namun sayang seribu sayang, pendidikan politik yang diberikan para politisi negeri ini dengan janji memperbaiki nasib masyarakat Indonesia, justru diawali dengan niat kekuasaan. Bukan niat perbaikan.

Kenapa begitu? Teori politik mengajarkan jika upaya memperbaiki bangsa tentu diawali dengan adanya power (kekuasaan), sebab tanpa itu kebijakan yang akan dijalankan tidak mungkin terjadi. Proses inilah yang kemudian berkembang, dan membentuk fiksi-fiksi dimasyarakat. Saking berkembangnya fiksi-fiksi itu, maka lahirlah kelompok-kelompok besar yang dinamakan Partai Politik. Sadar atau tidak, like or dislike, kehadiran partai politik justru menjadi pemecah bangsa. Itulah realitas menurut saya, yang juga bagian dari orang awam di negeri ini.

Awam-nya saya memandang perpolitikan negeri ini, karena sepertinya kita mundur di era tahun 50-an, dimana berpuluh-puluh partai hadir di era itu. Di saat negara baru saja merdeka, dan disaat negara mencari bentuk dan arah, mau di kemanakan negeri itu. Pertanyaannya kemudian, apakah negara tidak bisa menyederhanakan sistem perpolitikan negeri ini? Apakah negara tidak lagi bisa menguasai rakyatnya, sehingga harus terkotak-kotak kedalam puluhan partai politik.

Kacamata awam saya pun memandang, negara sekelas USA saja, dengan 50-an negara bagian yang terbentang dari utara ke selatan benua Amerika, jumlah penduduk yang lebih besar dari Indonesia, tingkat kemajuan ekonomi yang jauh lebih mapan dari Indonesia, pun hanya memiliki 2 partai. Asyiknya, begitu Pemilu berjalan, semua dalam keadaan damai, begitu terpilih Presiden yang baru, semua merasa bangga meski berasal dari kelompok minor seperti tampilnya Presiden Obama.

Yang pasti, tak ada keinginan untuk merendahkan semangat ke-Indonesiaan saya, tetapi justru bangga jika meniru sesuatu yang positif, meski itu dari negara lain. Sepertinya saya memimpikan Presiden terlahir dari sebuah proses demokrasi yang simple, bukan dari banyaknya pilihan politik bak anak catur yang berjalan simpang siur. Orang boleh saja mencemooh perjalanan panjang perpolitikan era Presiden Soeharto, tapi Sang Jenderal itu harus diakui telah berhasil ‘menyimpelkan’ alur politik negeri ini. Memang tak perlu meniru gaya kepemimpinan Pak Harto memimpin negeri ini, tapi mengatur politik seperti saat ini, butuh gaya seperti itu.

Lagi-lagi saya bermimpi, kalau panggung politik tahun ini benar-benar menghasilkan wakil rakyat yang berkualitas, yang berpendidikan, yang beriman dan yang bermoral. Lagi-lagi saya bermimpi, agar kembali lahir Presiden yang bisa mengatur negerinya, bisa membuat ketegasan hukum tentang politik, bisa menyederhanakan sistem perpolitikan yang sudah carut marut, bisa mendamaikan, bisa mengayomi, mengangkat kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Eh, lagi lagi saya bermimpi, bermimpi jadi Presiden, bermimpi jadi Pak SBY, bermimpi jadi Ibu Mega, bermimpi jadi pak Wiranto, bermimpi jadi Sri Sultan, Bermimpi Jadi Yusuf Kalla, bermimpi jadi Amien Rais, bermimpi jadi Akbar Tanjung, bermimpi jadi Prabowo, bermimpi jadi Hidayat Nurwahid, bermimpi jadi Tifatul Sembiring, bermimpi jadi Rizal Ramli….hahahaha…ternyata banyak yang mimpi jadi Presiden. Kalau begitu, apa mimpi Anda? Yang penting, jangan jadi pemimpi. Jadilah pemimpin. Kalau jadi Pemimpi, maka Anda hanya bisa jadi Presiden di Republik Mimpi. Kapan itu terjadi?? Ah, bodoh amat dengan Politik! (**)


Responses

  1. Ya iyalah. PNS memang tidak boleh peduli dengan politik tapi jangan apolitis, entar bapak dikerjain anggota dewan

  2. abang….. aq orin, nak wajo….
    menurut abang, kota bau@ skarang gim? trus bidang kepariwisataannya… sudah baik bloom? bls


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: