Oleh: hamzah73 | Desember 6, 2008

Siapa Penerus Sultan Buton?

Ditulis Oleh : Hamzah

Jumat malam (5/12), acara Kick Andy di Metro TV begitu menarik dan humanis. Kemasannpun semakin menggugah rasa nasionalisme penontonnya termasuk saya terhadap republik  ini. Bukan karena tokoh yang dihadirkan berasal dari kalangan nasionalis, tetapi justru Raja dan para Sultan di nusantara yang masih eksis keberadaannya yang tetap kukuh dan satu suara untuk tetap kokoh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Awalnya, saya berpikir kehadiran para raja dan sultan ini bakal menambah pundi-pundi egoisme suatu daerah yang bisa meruntuhkan semangat ber-NKRI, tetapi ternyata tidak. Raja dan para Sultan yang hadir, seperti Pangeran Edwar Bernong (Raja Lampung), Tengku Lamantjitji (Sultan Deli Serdang, yang umurnya masih 10 tahun), Andi Kumala Injo ( Putra Mahkota Kerajaan Gowa) dan Sultan Mahmud Badaruddin (Raja Palembang Darussalam) paham dan tahu, kalau mereka hanya pemimpin informal masyarakat, yang bukan zamannya lagi mengembangkan ‘egoisme’ kedaerahan.

Mereka juga menyadari, bahwa mengembangkan adat budaya yang tumbuh di masyarakat adalah bagian dari tugas mereka, sehingga peran Raja dan Sultan menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk ‘membesarkan’ Indonesia tercinta.

Bahkan saya sangat terkesima, ketika pertanyaan Bung Andy Noya  kepada Pangeran Edwar untuk menjelaskan, kenapa para bangsawan itu disebut berdarah biru? Jawabannya simple dan sangat logis. “Berdarah biru….sama kalau diibaratkan dengan Langit yang semakin tinggi semakin biru, Air laut yang sangat dangkal juga akan membiru, begitupun air yang sangat jernih juga akan terlihat biru” begitu Pangeran Edward menjawab penuh makna.

Demikian pula pernyataan Sultan Mahmud Badaruddin yang mengatakan sebelum ia dinobatkan sebagai Raja Palembang, ia pernah menjadi seorang pemain drama, bahkan penyanyi di bar-bar. Halnya dengan Tengku Lamatjitji yang masih sangat kekanak-kanakan menjawab jika pekerjaan sehari-harinya hanya bermain sebagaimana layaknya anak-anak lain seusianya. Demikian pula Andi Kumala Idjo yang status Rajanya ‘harus’ ia bisa memposisikan diri, karena beliau juga berstatus sebagai PNS di Kabupaten Gowa.

Intinya, tak ada egoisme berlebihan, mereka sadar, bahwa mereka kini hidup di alam nyata bernama Republik Indonesia, dimana peran mereka hanya sebagai pemimpin informal di masyarakat.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, saya bertanya dalam hati, kenapa Sultan Buton tidak dihadirkan di acara itu? Tentu pertanyaan itu diilhami, karena saya sadar jika hari ini saya tinggal di sebuah negeri bernama Kota Bau-Bau yang punya sejarah besar sebagai warisan dari Kesultanan Buton masa lalu. Meski hanya warisan, tetapi tatanan adat dan budayanya terbina lestari, termasuk bukti-bukti kejayaan itu. Sungguh anugerah yang tak ternilai dari Yang Maha Kuasa.

Lalu kemudian, muncul pertanyaan, apakah karena belum ada Sultan Buton yang sah dan diakui masyarakat Buton di era modern ini? Kalau ada, siapakah sebenarnya pewaris Sultan Buton, yang kemudian menjadi pemimpin Informal masyarakat Buton secara menyeluruh?

Memang, dalam beberapa acara formal pertemuan Raja-raja dan Sultan se-Nusantara seperti Festival Keraton Nusantara, nama Drs H. La Ode Moch. Halaka Manarfa (Wakil Walikota Bau-Bau saat ini) atau kakanda beliau dr. H. La Ode Izat Manarfa, M.Sc sering mendapat kepercayaan sebagai ‘Sultan Buton’, tetapi saya yakin kalau beliau berdua, tidak terlalu ingin disebut sebagai Sultan Buton, jika belum dilegitimasi oleh lembaga adat Buton itu sendiri.

Karena mereka sadar demokratisasi telah terbangun di negeri Buton   sejak zaman  dahulu, dimana Sultan harus diangkat melalui proses panjang beradasarkan pemilihan dan sejumlah syarat khusus yang harus dipenuhi berdasarkan ketentuan lembaga adat, lembaga agama serta lembaga lainnya yang diakui dalam tataran masyarakat Buton itu sendiri. Padahal di satu sisi, orang Buton mengakui beliau adalah titisan tulen Sultan-Sultan Buton yang pernah memerintah secara sah dan diakui oleh semua elemen di negeri ini.

Pertanyaan berikutnya. Dimanakah lembaga-lembaga itu? Siapakah orangya? Jika semuanya masih eksis, kenapa tidak ada pemberian kepercayaan seseorang untuk menjadi Sultan Buton? Haruskah orang Buton membiarkan terjadinya kekosongan pemimpin informal?

Benar. Tanpa kehadiran seorang Sultan Buton dan lembaga adat yang sah secara yuridis, kebesaran warisan Budaya dan nama besar Buton di blantika Nusantara bisa saja terpelihara. Tetapi alangkah baiknya jika kita semua sepakat untuk kembali bersatu dalam mengembalikan ‘roh’ kesultanan Buton itu sendiri. Alangkah terayominya masyarakat Buton secara universal, jika ia memiliki pemimpin informal disamping pemimpin-pemimpin formal yang ada saat ini.

Pemikiran sederhananya sangat simple. Dua atau tiga orang yang berpikir bagaimana mengayomi negeri ini, masih lebih baik jika yang berpikir itu hanya satu orang. Sebagai anak negeri, impian hadirnya pemimpin Informal itu tentu sangat dirindukan, bukan sebagai pemimpin tandingan di pemerintahan, tetapi pemimpin informal ‘bangsa’ Buton secara menyeluruh yang memelihara adat budaya, dalam bingkai NKRI. Siapa dia? (**)


Responses

  1. bagoes banget ni artikel tapi satu pesanku jangan lupa carikan saya bukuku okeeeeeeeeee

  2. Bung Hamzah,…. Saya suka baca blogmu. Tulisanmu bagus. Saya jadi minder. Oh ya, saya sekarang sudah lulus kuliah. Bulan 5 nanti, saya akan berangkat ke singapura untuk mendalami riset. Tapi, dalam waktu dekat akan segera ke bau-bau. Mungkin kita bisa ngopi sama-sama di Pantai Kamali. Ini juga kalau anda tidak sibuk. Gimana?

  3. Soal tulisan Anda lebih humanis ketimbang saya bos…Ok nanti kita ketemu di Kamali, bel saya kalo di baubau di 0813 416 99435


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: