Oleh: hamzah73 | Desember 4, 2008

Pak Ali, Kusta dan Semangatnya Jadi Guru

Ditulis oleh : Hamzah

Menonton sebuah acara di TV tentang peringatan HUT PGRI di Jakarta awal Desember ini, tiba-tiba pikiran saya melayang kepada sosok seorang bernama Pak Ali, nama lengkapnya Muhammad Ali. Lelaki ini kira-kira berumur 50-tahunan, ia bersama keluarga kecilnya tinggal di Desa Ranomentaa Kecamatan Toari Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Pak Ali, begitu ia akrab disapa semua orang bukanlah guru PNS atau status guru Bantu yang tercatat oleh Negara dan dijanjikan sebagai PNS. Tetapi lelaki ini, puluhan tahun umurnya ia abdikan buat dunia pendidikan, tapi ukuran kacamata saya ia terbilang istimewa diantara guru-guru yang menurut saya istimewa diseluruh Indonesia.

Kenapa? Pak Ali hanyalah seorang mantan penderita penyakit kusta (mungkin masih..), tapi penyakit itu tidak menghalanginya untuk mengabdikan diri membina bangsa ini. Ia pun ‘mencatatkan’ dirinya sebagai Kepala Sekolah pada SMP PGRI yang ada di Kecamatan Toari ini, belakangan sekolah tersebut ia rubah menjadi Madrasah entah apa alasannya saya kurang tahu..(Boleh jadi Pak Ali merasa SMP umum sudah banyak, sehingga mengubahnya menjadi Madrasah)

Saya tidak persoalkan itu. Saya hanya mengagumi dan bisa mengilhami semua orang untuk berbuat yang terbaik, maklum Pak Ali telah menelorkan ratusan alumni, dengan segala keterbatasannya, bahkan mungkin ada yang mencibir beliau, jika ia hanya seorang penyandang kusta..
Semangat Pak Ali tidak sekedar semangat menjadi guru dan semangat menamatkan siswa-siswanya, ia juga rajin ‘memelihara’ sekolahnya yang ia dirikan bersama masyarakat setempat. Bahkan, kerap untuk memelihara bangunan sekolahnya, ia rajin masuk hutan hanya untuk selembar papan dan sebatang tiang penyanggah untuk perbaikan gedung sekolah..kadang pula kalau melihat kondisi ekonomi masyarakat membaik, ia mengundang orang tua siswa untuk berembug bagaimana perbaikan sekolah itu..

Tapi perjalanan itu tidak selamanya mulus, Pak Ali kerap diterpa gossip tidak sedap, ia kadang dikritik tentang dana bantuan dan sebagainya, tapi Pak Ali tidak goyah, ia berkata, “orang hanya tidak tahu, apa yang saya lakukan, lillahi ta’ala semuanya untuk siswa juga,” katanya lirih..
Pak Ali dalam posisinya sebagai Kepala Sekolah merangkap guru swasta, tak hanya membina siswa dalam proses belajar mengajar di kelas..Ia juga menggenjot keterampilan siswanya dengan kegiatan ekstrakurikuler..kegiatan yang paling dikaguminya adalah Pramuka. Malah, untuk ukuran Kolaka, Pak Ali terbilang Pembina pramuka paling senior. Itu juga dijalaninya tanpa pamrih..

Lewat Pramuka inilah, saya mengenal dan sangat akrab dengan beliau hingga pada kondisi rumah tangganya sekalipun..keakraban itu terbina, karena kadang saya dipanggil untuk membantu membina siswa-siswinya..

Pak Ali juga bukan guru atau kepala sekolah dengan penghasilan tinggi.Ia hanya menggantungkan hidupnya dengan sedikit berkebun dan juga honor-honor mengajarnya (tentu hasil rembug para dewan gurunya)..Ia hanya tinggal di sebuah rumah tembok eks perumahan transmigrasi yang juga tidak layak..
Cara berpakaianpun sangat sederhana. Bahkan saya kerap menyaksikan Pak Ali tampil dengan sepatu reot tak bersmir, juga dengan kaos kaki yang bolong.. Kadang Pak Ali merasa malu, ketika saya menyaksikannya membuka sepatunya..bukan karena sepatu reot dan kaos kaki bolongnya, tapi jemari kaki yang ditutupnya masih terlihat jelas penyakit yang dideritanya..kusta.. “Maaf, beginilah kondisi saya” katanya kala itu..

Perjalanan hidup dengan penuh keprihatinan tidak pernah dijalaninya dengan keluhan. Suatru ketika saya bertanya pada beliau, “Pak Ali berniat tidak jadi PNS” kataku. “Niat itu pasti ada, tapi mungkinkah saya bisa jadi PNS?” begitu jawabnya. Ia malah balik bertanya, “Harusnya Anda yang lebih semangat, Anda masih muda dan dengan sejuta peluang, jangan pernah ada kata menyerah, sebab hidup ini memang perjuangan, berjuang terus” begitu nasehatnya.

Pertengahan tahun 2007, saya sempat bertemu lagi dengan Pak Ali, tepatnya di ajang MTQ Tk. Provinsi Sultra di Kota Kolaka. Kebetulan saya sudah hamper 10 tahun tinggal berjauhan dengan beliau, tepatnya di Bau-Bau. Saya pikir pola hidupnya sudah berubah. Saya bercakap dengan beliau di sebuah trotoar jalan dekat Arena MTQ. Sambil mengepulkan rokok beliau memanggil saya. “Halo bos, bagaimana kabar” sapanya.

Saya terenyuh dan agak sedih..ingatan saya melayang pada beberapa tahun silam ketika masih akrab dengannya. Saya tak langsung menjawab, saya cermati seksama dan memory saya melayang entah kemana. “Hey, sudah jadi bosmi kah” ia kembali menegurku, dan saya sadar. “Maaf, Pak saya kagum dengan apa yang bapak miliki hari ini” begitu jawabku sambil kemudian menceritakan panjang kemana saja saya selama ini.

Waktu saya dengan beliau tersita kurang lebih 2 jam lamanya. Tapi yang menjadi buah pemikiran saya hingga saat ini, yakni beliau berkomentar singkat. “Saya masih seperti dulu, saya juga ingin seperti Anda, tapi siapa yang bisa membantu Saya. Saya masih di sekolah,” begitu katanya..(**)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: