Oleh: hamzah73 | November 20, 2008

Centang dan Proyek Pena

oleh : Hamzah

Belum tersoalisasi benar, apa maksud Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberlakukan kebijakan memberi tanda ‘centang’ (checklist) pada kartu suara pada Pemilu nantinya. Meski, mengakomodiri tanda lain berupa coblos dan sebagainya, namun penggunaan centang ini, seolah tidak bermanfaat dan terkesan ada ‘arus besar’ yang mendorong KPU? Kenapa tidak bertahan dengan system ‘coblos’ saja, karena sudah mengakar dan dikenal luas oleh seluruh pemilih di negeri ini.

Kebijakan pemberian tanda centang seolah akal-akalan semata. Apakah ini terkait dengan proyek pena, pulpen, spidol dan sejenisnya? Kalaupun tidak, apakah KPU sudah melihat nilai plus dengan sistem seperti ini? Apakah jawabannnya upaya mencerdaskan bangsa dengan pemakaian pulpen? Ataukah yang lainnya?

Yang pasti, sistem centang dengan menggunakan pena, spidol dan sejenisnya dalam kacamata orang awam justru banyak mudhoratnya. Sebut saja, berapa banyak pulpen yang harus digunakan dan berapa uang negara yang keluar untuk pembeliannya?

Lepas dari pemikiran dan penilaian sederhana seperti itu, ada hal lain yang menjadi mudhorat penggunaan centang ini. Katakanlah, warga belum terbiasa memberi centang sehingga diprediksi banyak surat suara yang batal. Selanjutnya, kalaupun orang tahu cara mencentang, tapi pada saat mencoret, bisa saja melewati dua atau tiga nama calon yang akan dipilih, bahkan boleh jadi ada yang sengaja mencentang dari urut bawah ke atas, lalu bagaimana penilaian sahnya kartu suara tersebut? Batal atau tidak.

Lainnya, kalaupun pemilih mencentang dengan baik dan benar, hal lain yang harus diketahui, bahwa Indonesia itu hanya dua musim, penghujan dan kemarau, hawanya pun hanya dua, panas dan dingin. Nah, kertas suara yang telah dicentang tersebut, jika dimasukkan dalam kotak suara, pada suhu tertentu, tinta pulpen atau spidol diprediksi akan melumer kemana-mana. Pertanyaannya, sah atau tidak suara tersebut? Lagi-lagi ini pemikiran dan pertanyaan yang sederhana.

KPU Pusat boleh berdalih, bahwa kualitas tinta yang akan dipakai pada Pemilu nantinya adalah tinta Pulpen atau spidol yang bermutu. Pertanyaannya, apakah kualitas itu juga akan ‘berlaku’ hingga di daerah. Sebab pengalaman menunjukkan, tinta jempol saja yang dipakai selama ini kualitasnya beragam, dari yang asli hingga palsu.

Nah, dari pada menimbulkan sejuta masalah bagi pemilih yang ingin berpartispasi aktif pada Pemilu nantinya, kebijakan seperti ini harus ditinjau kembali. Perlu menjadi perenungan kita bersama bahwa pulpen dengan centangnya belum tentu bisa mengangkat kualitas Pemilu, dan kualitas Caleg yang akan dipilih.

Yang lebih menarik, tidak sedikit para caleg kita ‘mungkin’ belum banyak yang bisa mensosialisasikan centang itu kepada konstituennya. Jakarta bisa saja mengikuti pola seperti itu, karena kualitas SDM yang terbilang baik, namun orang daerah, lebih-lebih yang berada di kawasan terisolasi, mereka hanya tahu yang namanya ‘nyoblos’. Benar, teknis Coblos masih terakomodir, tetapi adanya teknik lain seperti centang, boleh jadi menambah deret panjang perbedaan pendapat di negeri ini. Ada yang sudah tidak bermasalah, kenapa harus mengakomodir lagi yang bisa menimbulkan masalah? Hanya KPU yang tahu jawabnya. (hamzah)


Responses

  1. ya gakpapa to mas,
    kalau pakai dicenthang khan berarti ada proyek baru.
    penjualan bolpoin meningkat.
    he he he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: