Oleh: hamzah73 | November 16, 2008

Palabusa, cantik dan bersejarah

img_23691

Oleh : Hamzah

Mungkin belum banyak yang tahu, jika kawasan budidaya mutiara yang dikelolah oleh PT Selat Buton di Palabusa Kecamatan Bungi (kini Kalea-lea) Kota Bau-Bau, tak sekedar area penghasil mutiara. Lebih dari itu, kawasan ini lebih mirip area ‘cottage’ berkelas dengan sejuta sejarah masa lalu yang tak banyak orang mengenalnya. Pantas saja, jika beberapa tamu dari luar negeri lebih memilih Palabusa sebagai tempat peristirahatan yang nyaman.

Sekilas kawasan ini tak menarik pandangan mata, maklum memasuki kawasan ini dijaga ketat dengan satuan pengaman dengan dua gerbang utama, apalagi dikelilingi tembok kuat yang membatasi kawasan ini dengan wilayah disekitarnya.

Untuk ‘diterima’ masuk ke areal ini harus se izin pengelolah PT Selat Buton. “Tidak bermaksud apa-apa, tetapi wilayah ini kawasan perusahaan, jangan sampai aktifitas karyawan terganggu,” ujar Gerrit Banse, lelaki 70 tahun berdarah Makassar-Belanda, yang dituakan mengelolah perusahaan ini saat dijumpai ketika pengambilan gambar oleh tim Global TV-Jakarta awal November 2008 ini.

Pas memasuki gerbang kedua, sebagai pintu masuk kawasan ini sungguh diluar dugaan. Berhadapan langsung dengan selat Buton, dengan taman yang di tata bergaya natural, kawasan budidaya mutiara ini lebih cocok sebagai kawasan wisata alam. Belum lagi pantai pasir putih dengan nyiur melambai, sungguh sebuah keindahan yang tak ternilai.

Kawasan ini juga terdapat beberapa villa dengan arsitektur bergaya Belanda, bahkan terdapat pula monumen ‘In memori’ seorang berkebangsaan Jepang bernama DR. Sukeyo Fujita bertahun 1931, menegaskan jika kawasan Palabusa menyimpan sejarah Perang Dunia I dan II. Apalagi, di depan kawasan ini tepatnya di perairan selat, menurut beberapa penyelam dari Bau-Bau Dive Club, terdapat bangkai pesawat Jepang di dasar lautnya.

“Kawasan ini punya sejarah panjang. Dulu Belanda yang mengelolah, kemudian dilanjutkan oleh bangsa Jepang, dan modernisasi pengembangan mutiaranya dilakukan oleh Almarhum Bapak Samsu Arif, seorang veteran yang diakui keberadaannya oleh Negara, dan kamilah sebagai generasi penerus beliau untuk mengelolah budidaya mutiara di tempat ini, kalau dihitung-hitung, sejak pertama kali berdiri, saya termasuk generasi ke-empat” ujar Gerrit Banse yang akrab disapa Om Geryt, didampingi mantunya bernama Efram.

Cerita Om Geryt didukung fakta-fakta. Pada ruang tamu bangunan utama Villa ini terdapat foto-foto tua masa lalu. Dari foto-foto petinggi Belanda, foto seorang Pemuda Jepang dengan kostum bawah lautnya, hingga hasil budidaya mutiara tempo doeloe. Bahkan, terdapat pula foto Kakek dari Bapak Laode Halaka Manarfa (Wakil walikota Bau-bau saat ini) bersanding dengan beberapa orang Belanda. “Panjang ceritanya Nak, yang pasti kawasan ini sudah lama sekali, dan saya lebih enjoy tinggal disini,” ujar Om Gerryt lagi dengan gaya bahasa Holland Spoken-nya (Dialeg Belanda).

(***)
PUAS mengelilingi kawasan perusahaan ini, lebih menarik jika mengulas kondisi dua Villa Palabusa ini. Bangunan ini benar-benar warisan Belanda, sama dengan bangunan Belanda lainnya di pusat Kota Bau-Bau, seperti Rujab Walikota Bau-Bau dan Rujab Bupati Buton. Luasnya tidak seberapa, kira-kira satu villa seukuran 12 x 15 meter. Khusus bangunan yang pertama kali dijumpai saat memasuki kawasan ini, oleh pemiliknya digunakan sebagai Kantor Perusahaan. Terasnya dibuat menghadap langsung ke laut, sekaligus memonitor langsung kinerja karyawan.

Bagian interiornya dipermak menjadi 3 bagian utama, satu ruang pimpinan, satu ruang staf, dan satu khusus untuk dapur, semuanya masih bergaya Belanda, yang dipercantik dengan sepuhan khas kayu. “Dindingnya saja yang ada perubahan, karena sudah dipasangkan keramik, tetapi rangka utamanya masih asli,” terang Om Gerryt.

Di depan kantor ini, juga terdapat sebuah Villa. Inilah Villa utama, yang kerap dipakai tamu luar negeri ketika berkunjung kesini. Seperti tamu asal Korea, saat Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara pada Bulan Agustus 2005 silam. Kira-kira berjarak 20 meter, yang dihubungan dengan jalan setapak dari cetakan beton se ukuran 50×50 cm, yang dikelilingi aneka jenis bunga yang memanjakan mata.
Bangunan ini juga bergaya ‘Holland’, namun modelnya sengaja dibuat menggantung ala rumah panggung, dengan 2 ruang utama sebagai pemanisnya. Satu ruang berfungsi sebagai ruang tamu dengan dinding khas uratan kayu. Disinilah terpajang foto-foto tua itu, dan beberapa pajangan Penghargaan Bintang dari Negara kepada pemiliknya.

Satu bagian lainnya terdapat disisi bagian belakang yang digunakan sebagai ruang istirahat, yang dilengkapi dengan dua buah dipan. Benar-benar seperti cottage berbintang. Kedua ruang utama ini dikelilingi teras dengan lantai kayu pula. Sangat khas. Satu sisi lain adalah toilet. Sangat menyenangkan.

Dari kedua Villa ini, berjarak 40 meter disisi timur terdapat sebuah monumen seukuran 2 meter persegi. Dari jauh seperti makam, tetapi setelah didekati hanyalah monumen biasa, yang tebuat dari lempengan tembaga bergambar seorang jepang bernama DR Sukeyo Fujita. “Saya tidak tahu banyak ceritanya, tetapi beliau itu mungkin punya jasa besar disini, dan ini untuk mengenang beliau,” tambah Om Gerryt.

Yang pasti antara bangunan satu dengan bangunan lainnya selalu dihubungkan degan taman-taman bunga. Sungguh indah, dan inilah mungkin yang membuat karyawan mutiara menjadi betah bekerja disini, dan mungkin juga resep awet muda Om Gerryt. Berkunjunglah kesana! (hamzah)


Responses

  1. Ralat ya mas… nama om gerrit Banse
    dia bersama anak mantunya, namanya Efram bukan Frans

  2. Trims Glenn…kami sudah lakukan perubahan, semoga bermanfaat

  3. Salam Kenal,

    Senang berkunjung diBlog anda. Banyak pengetahuan baru yang saya peroleh.

    Salam

    zhamalck.blogspot.com

  4. As.wr.wb…..
    pak aku dari dari kawasan timur indonesi maluku(banda naira)
    yang aku mau tanya kenapa pemerintah tidak perna akan sosialisasi tentang budidaya mutiara di kempung saya,padahal banda bukan saja potensi wisata tapi sektor perikanan juga sangat penting kan…?
    kalu bisa ajarin aku cara suntik nukleus ke dalam mutiara yang benar biar saya dapat kembangkan di kampung saya yang kebanyakan nelayan lepes (penengkap).
    mohon di balas ke emel saya karororkbatu@yahoo.co.id

  5. bang…sy dr palabusa,mari berbagi informasi….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: