Oleh: hamzah73 | November 9, 2008

Caleg Tiang Listrik

Ada-ada saja ulah para calon legislative (Caleg) kita. Ketika DCS dan DCT dipublikasikan, apresiasi untuk memperkenalkan diri  ke publik begitu besar. Namanya juga kampanye apa saja dilakukan, agar public bisa mengenalnya. Sayangnya, ambisi besar untuk mewakili rakyat, (sepertinya) tidak diikuti dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Dimana-mana, sticker, baleho, hingga  poster-poster, berseliweran tanpa aturan, terpasang semaunya, bahkan kawasan sarana peribadatan pun tak luput menjadi ‘area’ kampanye.

Salah satu area yang paling banyak menjadi korban ‘kampanye’ Caleg adalah tiang listrik, bahkan boleh jadi hampir semua daerah di nusantara ini, tiang listrik menjadi sasaran empuk. Mungkin sekaligus ingin mengkritik kalau-kalau  tiang listrik lebih cocok sebagai media kampanye ketimbang media penyambung arus listrik yang terus-menerus ‘byarpet’. Maka wajar saja jika ada saja yang menggelari Caleg 2009-2014 ini sebagai Caleg Tiang Listrik.

Tetapi apapun namanya, fenomena Caleg tiang listrik ini, adalah sebuah perwujudan jika Caleg-caleg kita didominasi oleh person yang terbilang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya, jika tak ingin disebut sebagai Caleg yang tak  mengenal aturan, tak patuh hukum dan tak punya estetika. Lalu pertanyaannya, apakah kita akan memilih Caleg seperti ini? Tentu tergantung pribadi masing-masing.

Masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kinerja KPU, Panwaslu, Pemerintah daerah atau pihak PLN sebagi pemilik, yang ‘seolah’ membiarkan ulah Caleg seperti ini. Tetapi idealnya, masyarakat pemilih pun harus ‘berkampanye’ untuk tidak memilih Caleg-caleg seperti ini, dan wajar saja jika mereka diposisikan sebagai bagian dari politisi busuk, yang tak perlu dipilih pada Pemilu mendatang.

Bukan bermaksud memberi pembenaran kinerja KPU, Panwaslu, Pemerintah Daerah atau PLN, sebab regulasi mengenai tata cara kampanye sudah di atur sedemikian rupa, sayangnya, regulasi tinggal regulasi, ia sekadar menjadi lipstick demokrasi, Caleg justru mencari pembenaran, yang penting ngetop dan mudah dikenal masyarakat pemilih.

Padahal, andai saja para Caleg memiliki kepedulian besar terhadap lingkungannya, boleh jadi masa kampanye ini berubah menjadi ajang wisata bagi masyarakat Indonesia, bahkan mungkin wisatawan mancanegara. Katakanlah, semua atribusi kampanye baik yang berbentuk gambar, bendera, spanduk atau baleho dikumpul pada satu area tertentu, dipastikan akan ramai pengunjung. Jika itu terjadi, maka boleh akan ‘menghidupi’ rakyat kecil, sebab di sana akan muncul pedagang-pedagang baru dan lain sebagainya.

Namun sayang seribu sayang, itu hanya sekedar mimpi di alam demokrasi yang makin terbuka ini. Mungkin saatnya kita mengatakan untuk tidak memberi ruang apalagi memilih mereka..ataukah kita ingin berkata, biarkan saja mereka? (**)
boneka-parpol1


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: