Oleh: hamzah73 | Oktober 31, 2008

Idealnya, Sultan Jangan Nyapres

Idealnya, Sri Sultan Hamengkubowono X tidak mencalonkan dirinya sebagai Presiden RI periode 2009-2014. Itulah opiniku ketika pertama kali mendengar, kalau Sri Sultan mencalonkan diri sebagai Presiden.

Memang tidak ada aturan yang melarang seorang untuk mencalonkan diri sepanjang memenuhi syarat. Apalagi seorang Sri Sultan, yang punya basis riil, punya kekuatan, punya harisma, Raja Jawa sekaligus kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.

Tetapi pergolakan politik bangsa Indonesia ditengah ‘kekisruhan’ moral negeri ini bukan langkah tepat untuk bergelut di dalamnya. Penulis memahami, jika jutaan orang Indonesia merindukan sosok tokoh sekaliber Sri Sultan dalam menahkodai negeri ini, bahkan jutaan orang pula menanti hadirnya ‘Ratu Adil’ yang bisa membawa Indonesia lepas dari keterpurukan.

Ketokohan seorang Sri Sultan, dan keberadaan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa yang terpelihara dari ‘virus’ politik dan keserakahan kekuasaan, masih menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia saat ini. Itu pemikiran kami yang tinggalnya di luar Pulau Jawa, yang masih bisa berkata kepada dunia luar, jika Indonesia masih punya tokoh kharismatik yang lepas dari emblem politik.

Memang, jika Sri Sultan tidak jadi mencalonkan diri berarti memberi ruang besar bagi SBY, Kalla, Megawati, Amin Rais, Sutiyoso, Wiranto dan tokoh politik lainnya dalam Pilpres mendatang, tetapi ketidakhadiran Sri Sultan mengokohkan Jokjakarta dan Jawa pada umumnya bahwa ‘pusat budaya’ Indonesia itu kini masih bertahan, dan tidak ikut dengan carut-marut perpolitikan negeri ini.

Tak lekang dari ingatan kita ketika sejarah mencatat bahwa Ibukota Negara pernah di pindahkan dari Jakarta ke Jokyakarta. Psikologis-nya, karena Yokyakarta terbilang wilayah yang masih dihormati penjajah Belanda kala itu, sehingga Indonesia ‘aman’ jika ibukota di alihkan ke sana sementara waktu.

Andaikata kita semua bisa mengambil ‘tuah’ dari rentetan sejarah itu, maka ada baiknya Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak mencalonkan diri, tidak terlibat langsung dalam arena pilih-memilih, karena apapun alasannya, kehadiran Sri Sultan di ajang tersebut boleh jadi (mudah-mudahan tidak) ‘mengotori’ Ngayokyakarto Hadiningrat, sebagai negeri ikon Indonesia, yang dihormati keberadaannya oleh seluruh elemen bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Marauke.

Memang Sri Sultan mengakui jika ia hanyalah seorang manusia biasa, bukan Ratu Adil dan sebagainya. Tetapi Indonesia telah mecatatat jika Sri Sultan adalah titisan Raja-raja Mataram yang ‘dipermak’ sebagai simbol keutuhan manusia Jawa, yang halus, santun, agamis, dan rakyatnya patuh dengan titah sang Sultan. Simbol-simbol itulah tak sekadar menjadi milik manusia Jawa, tetapi menjadi milik manusia Indonesia seutuhnya.

Insya Allah, kebesaran seorang Sri Sultan akan langgeng abadi di persada nusantara, jika beliau tak terbelit dalam rongga-rongga politik yang penuh udara keserakahan akan kekuasaan.

Ayahanda beliau, Sri Sultan Hamengkubowono IX pernah menjadi Wakil Presiden RI, dan idealnya anaknya bisa kembali ‘mewarisi’ jabatan itu, bahkan bisa lebih dari itu, sebagai Presiden RI. Tetapi, bukankah Sang Ayah saat itu tidak dalam kondisi Negara dalam keadaan ‘memilih’ tetapi Negara memang membutuhkan seorang tokoh pemersatu bangsa, yang bisa mengantar Indonesia lebih dikenal di publik dunia.

Indonesia masih yakin, dan sangat meyakini jika Sri Sultan Hamengkubuwono IX bukan sekedar Raja Jokjakarta dan tokoh Jawa pada umumnya, tetapi tokoh milik bangsa Indonesia. Jangan sampai, kehadiran Sri Sultan di kancah Pilpres menyurutkan Ngayokyakarta Hadininggrat sebagai symbol kebesaran pribadi bangsa Indonesia, dan jangan sampai ketokohan seorang Sri Sultan yang telah menjadi simbolik bangsa Indonesia akan terpupus.

Maka kelak bila itu terjadi, boleh jadi bangsa lain di dunia ini akan berkata, Indonesia telah menjadi bangsa yang kerdil, Indonesia tak tak ada lagi yang bisa dibanggakan. Kenapa? Karena ulamanya, artisnya, politikusnya, teknokratnya, tentaranya, rajanya, dan rakyatnya, kini ramai-ramai larut dalam euphoria politik. Semoga ini hanya sekedar dalam hayalan. (**)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: