Oleh: hamzah73 | Oktober 25, 2008

Jangan Lagi Ada Ruang Bagi PKI

Sebuah perdebatan dalam acara talkshow di salah satu TV swasta nasional baru-baru ini dengan gamblang mempertontonkan anak-anak eks aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) ‘diperdebatkan’ dengan seorang aktivis nasionalis negeri ini, telah memberi gambaran jika negeri ini memang telah benar-benar dekmokratis. Tak ada lagi beban ‘dosa sejarah’ tertayang di sana. Yang hadir justru keinginan kuat anak-anak eks PKI tersebut untuk ‘merebut’ kembali harkat hidupnya yang selama ini terlibas sejarah. Jika pemirsanya sadar, maka yang menjadi kesimpulan pada tayangan itu yakni eks anak-anak PKI tersebut sepertinya ingin ‘membersihkan’ opini masyarakat terhadap sejarah kelam PKI.

Untung saja, (dan bagi penulis sangat sepakat) dengan sanggahan Sang Pemuda Nasionalis yang berujar, “Jika Anda ingin menghidupkan kembali PKI, maka Kami akan menjadi lawan Anda!. Sanggahan tersebut dalam etika berbahasa memang tergolong kasar. Tetapi kita menjadi mahfum, jika PKI (memang) tak perlu hadir lagi dalam sejarah panjang negeri ini. Cukuplah sudah kekejaman mereka berakhir di Gestapu, 43 tahun silam.

Sayangnya, keperihatinan anak bangsa akan bahaya laten komunis sepertinya hanya bayang-bayang ditengah demokratisasi negeri ini. Ruang untuk tumbuh berkembangnya PKI begitu terbuka lebar, bahkan secara tidak sadar (maaf, dan mudah-mudahan ini tidak terjadi) media massa kita baik nasional maupun daerah kita seolah ikut memberi ruang bagi PKI untuk hidup kembali.

Opini ini tentu punya dasar, salah satu buktinya adalah debat talkshow tersebut, bahkan di sebuah media cetak dan TV nasional mengulas tuntas perjalanan hidup seorang Tan Malaka di edisi kemerdekaan, dengan tajuk utama Bapak Republik Yang Terlupakan. Memang, ulasan ini secara jujur mengungkap Tan Malaka yang komunis, bahkan pernah menjabat sebagai Kepala Politbiro Partai Komunis Internasional di kawasan Asia, sebuah jabatan yang tentu bagi orang Indonesia jarang memilikinya.

Ulasan lainnya pun jujur mengungkap jika Tan Malaka adalah komunis yang pro Islam. Bahkan Tan Malaka dicibir aktivis komunis dunia lainnya sebagai orang yang bukan komunis tulen. Lebih dari itu, Tan Malaka malah dikenal banyak orang di kampungnya, Minangkabau sebagai seorang Hafidz (penghafal Alqur’an).

Yang pasti, ulasan tentang seorang Tan Malaka, bagi individu yang ‘setengah nasionalis’, seolah (juga) dan bisa jadi mengaburkan sejarah kelam PKI di negeri ini. Bahkan boleh jadi, ulasan Tan Malaka akan menumbuhkan heroisme untuk mengembalikan nama komunis ke kancah publik nasional sebagai salah satu pilar pendiri Indonesia.

Bagi penulis yang tergolong belia dalam usia (35 tahun) sadar jika tak cukup referensi tentang sejarah panjang negeri ini. Tapi kisah pemberontakan Muso dan kekejaman G 30S/PKI yang termuat dalam buku- buku Sejarah pendidikan kita, cukup menjadi pelajaran berharga, jika PKI tak perlu tumbuh dan jangan lagi ada ruang untuk mereka hidup di Indonesia ini.

Hanya, sayang seribu sayang, globalisasi memang tak bisa terbendung. Generasi muda saat ini banyak yang bangga dengan tokoh-tokoh berhaluan sosialis-komunis, trend pemuda juga tidak sedikit yang menggunakan atribut-atribut ‘kiri’, bahkan tidak jarang terlihat ada kelompok-kelompok mahasiswa berdemonstrasi persis ‘gaya-gaya kiri’ warisan Stalin, Lenin dan Karl Marx.

Sebenarnya, foundhing father ini telah mewariskan kita nilai-nilai Pancasila yang harus diejawantahkan sebagai benteng utama penolak masuknya komunis. Tapi apa lacur, nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara, seolah menjadi simbol belaka. Maka jangan heran, kalau haluan ‘kanan’ dan ‘kiri’ mulai dengan berani tumbuh subur di negeri ini. Tapi lebih parah lagi jika negeri ini memberi ruang pada PKI. Memang yang PKI tidak selamanya Atheis, tapi jika orang larut dengan komunis, maka tunggulah hadirnya para Atheisme. Jika Atheis sudah menggurita pada anak bangsa, maka tunggulah kehancuran negeri. Maka, wahai anak negeri, janganlah memberi ruang pada PKI ! (**)

Penulis adalah Penulis pada harian online Kabar indonesia dan mantan wartawan di beberapa media cetak, berdomisili di kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara


Responses

  1. ya…setuju, bang
    pki jangan dberi ruang, sedikitpun,,, berbahaya…
    massa kita ga bisa belajar dri sejarah….
    cukuplah para leluhur kita yang mengalami pahitnya zaman kelam tersebut, mudah2an Allah SWT melindungi kita dari faham2 yg tidak benar…
    god bless us,..Merdeka

  2. trims…memang PKI kini banyak muncul dalam berbagai wajah..sayang kalau anak cucu kita nanti harus menjadi atheis, memang sih komunis itu belum tentu atheis..tapi ketika larut didalamnya, kita bisa terjebak disana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: